Pak Erick Gak Ngadi-ngadi! Saham BUMN Memang Sedang Hot

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
19 November 2020 09:31
Bursa Efek Indonesia Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebutkan langkah transformasi yang saat ini tengah dilakukan di perusahaan pelat merah menjadi sentimen positif di kalangan pelaku pasar selama beberapa waktu terakhir.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan respon positif ini ditunjukkan dengan diborongnya saham BUMN selama beberapa waktu terakhir, yang bahkan kenaikannya melebihi kenaikan pada indeks LQ45.

Ternyata apa yang dikatakan Erick benar adanya. Hal ini sendiri ditunjukkan oleh kemampuan indeks BUMN20 yang biasanya menjadi indeks acuan performa perusahaan-perusahaan milik negara yang berhasil reli 19,67% dalam waktu sebulan terakhir.


Kenaikan indeks BUMN20 jauh lebih tinggi dibanding indeks acuan lainĀ seperti LQ45 yang hanya mampu terbang 13,13% bahkan jauh meninggalkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang 'hanya' mampu terbang 8,90%.

Sebenarnya BUMN manakah yang menjadi jawara saham-saham dengan ultimate shareholder Pemerintah Republik Indonesia selama sebulan terakhir? Apakah benar sedang 'hot' diperdagangkan? Simak tabel berikut.

Data perdagangan mencatat, selama sebulan terakhir terdapat 12 emiten dengan ultimate shareholder Pemerintah Republik Indonesia yang berhasil terbang di atas 20% dan memang rata-rata emiten-emiten ini sebentar lagi akan mengadakan aksi korporasi atau mendapat sentimen positif spesifik.

Kenaikan sendiri dipimpin oleh PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang berhasil terbang 60,66% serta anak usahanya yang juga masuk ke dalam daftar ini yakni PT Garuda Maintenance Facility Aero Area Tbk (GMFI) yang naik 26,25%.

Kenaikan kedua saham tersebut tentunya tidak terlepas dari akan dibentuknya holding pariwisata oleh Kementerian BUMN. Dengan dibentuknya holding pariwisata tentu saja ini merupakan kabar baik bagi GIAA yang nantinya akan menjadi salah satu anak dari holding tersebut.

Nantinya apabila membutuhkan dana segar, holding pariwisata tersebut bisa menerbitkan obligasi dimana daya tawar holding akan lebih kuat dibandingkan apabila GIAA menerbitkan sendiri obligasi tersebut sehingga cost of funds bisa ditekan.

Selanjutnya emiten PT Timah Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang merupakan anggota holding pertambangan RI Mind ID juga berhasil masuk ke dalam daftar ini dengan kenaikan masing-masing 41,61% dan 31,61%.

Kenaikan kedua saham tersebut terjadi setelah rencana pemerintah membentuk Holding Indonesian Battery dimana kedua perusahaan tersebut digadang-gadang akan memainkan peranan penting di holding dengan nilai investasi proyek pabrik baterai kendaraan listrik yang diperkirakan akan bernilai sebesar US$ 20 miliar (Rp 296 triliun, asumsi kurs Rp 14.800/US$).

Selain itu muncul pula nama perbankan dengan total aset terbesar di Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang berhasil melesat 24,31% selama sebulan.

Kenaikan saham BBRI tentunya tidak terlepas dari perseroan yang baru saja mengumumkan rencana aksi korporasi besar yang akan segera dilakukan.

Belum jelas memang aksi korporasi apa yang akan dilakukan oleh BBRI namun tentunya para investor sudah bisa mengendus aksi korporasi ini dari jauh-jauh hari.

Jejak aksi korporasi BBRI sudah ditinggalkan saat akhir Oktober dimana kala itu merupakan batas terakhir pengumpulan laporan keuangan Q3. BBRI mengumumkan akan mengaudit laporan keuangannya sehingga tenggat waktu pengumpulan laporan keuangan hasil audit diperpanjang.

Tanda tanya tentunya muncul di benak para pelaku pasar karena laporan keuangan kuartal ketiga tidak wajib untuk diaudit, apabila perseroan mengaudit laporan keuangan biasanya akan diadakan aksi korporasi besar-besaran.

Bahkan jejak aksi korporasi BBRI bisa ditelisik hingga awal tahun 2020. Kala itu, Menteri BUMN, Erick Thohir, selaku pemegang saham mayoritas di BRI sebagai perwakilan Pemerintah Indonesia pernah memberikan petunjuk mengenai arah pengembangan BRI ke depan.

Hal ini disampaikan Erick saat menjadi pembicara dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook pada Februari 2020. Erick mengatakan, Kementerian BUMN akan mensinergikan BRI dengan Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM).

"Kami sudah rapat dengan BRI, kami ingin memastikan Juni ini terjadi sinergi yang luar biasa dengan Pegadaian (PT Pegadaian) dan PMNĀ (PT Permodalan Nasional Madani). Jadi jelas, tidak ada lagi overlapping kebijakan di situ, dan target market-nya jelas, ini kalau terjadi, BRI akan jadi bank luar biasa. Cepat-cepat beli sahamnya!" ujar Erick saat itu.

Dari tabel di atas artinya memang sudah terbukti saham-saham BUMN dalam sebulan terakhir sedang melesat tinggi, tapi apakah saham-saham BUMN memang sedang 'hot' diperdagangkan ? Simak tabel berikut.

Data perdagangan mencatat, ternyata memang benar adanya selama bulan Oktober saham-saham yang paling banyak diperdagangkan yang ditunjukkan dengan saham dengan nilai transaksi perdagangan terbesar di BEI adalah saham BUMN.

Bagaimana tidak, 4 dari 5 saham yang paling banyak diperdagangkan di BEI adalah saham-saham dengan ultimate shareholder Pemerintah RI.

Tercatat di posisi kedua muncul emiten BBRI dengan total transaksi Rp 9,38 triliun, selanjutnya ada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan total transaksi Rp 8,67 triliun, sedangkan di posisi keempat dan kelima terdapat ANTM dan PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) dengan total transaksi masing-masing Rp 8,58 dan Rp 7,86 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading