Harga ANTM, TINS & INCO 'Meledak', Apakah Sudah Mahal?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
18 November 2020 13:07
Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Reli harga saham tiga emiten tambang yang akan masuk dalam Holding Indonesian Battery masih belum berhenti. Hari ini, tiga saham yang juga anak usaha PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) atau MIND-ID menggunguli kenaikan harga saham-saham tambang lainnya. 

Tiga saham itu milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS) dan PT Vale Indonesia Tbk (VALE). Harga ketiga saham ini, hari ini naik lebih dari 2%.

Pemicunya datang dari kabar baik setelah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengabarkan bahwa perusahaan raksasa baterai asal Korea Selatan, LG Chem Ltd, salah satu investor pabrik baterai di Indonesia, dipastikan akan segera meneken kerjasama investasi untuk mendorong hilirisasi nikel hingga menjadi baterai mobil listrik di Indonesia.


Kenaikan hari ini sendiri melanjutkan reli ketiga saham tersebut setelah kemunculan kabar akan dibentuknya Holding Indonesian Battery dimana ketiga emiten tersebut akan memegang peranan penting di holding ini.

Sebenarnya secara valuasi, ketiga perusahaan tersebut sudah tidak bisa dikatakan murah karena sudah reli tinggi selama berberapa bulan terakhir.

Pertama, valuasi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) apabila menggunakan perbandingan laba bersihnya dengan harga pasar (PER) berada di angka 26,74 kali. Angka ini lebih tinggi daripada rata-rata industri di angka 15,2 kali.

Apabila menggunakan valuasi nilai buku dibandingkan dengan harga sahamnya (PBV) juga sudah tergolong mahal yakni PBV ANTM di angka 1,57 kali dibandingkan dengan rata-rata industri di angka 1,4 kali.

Hal yang sama juga terjadi pada saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang memiliki PER sebesar 30,71 dan PBV 1,55 dimana keduanya berada di atas rata-rata industri.

Bahkan PT Timah Tbk (TINS) masih membukukan rugi bersih Rp 255 miliar selama 9 bulan di tahun 2020 ini sehingga PER tidak dapat di analisis, sedangkan PBV TINS juga masih tergolong mahal di angka 1,69 kali.

Meskipun sudah terbang tinggi akhir-akhir ini dan secara valuasi tidak bisa dikatakan murah, sejatinya reli ketiga saham tersebut belum menembus level tertinggi sepanjang masanya.

Tercatat rekor tertinggi saham ANTM berada di angka Rp 5.300.unit atau sekitar Rp 4.400/unit apabila memperhitungkan Right Issue yang sempat diterbitkan perseroan pada tahun 2015.

Untuk saham TINS level All Time High (ATH) berada di angka Rp 2.625/unit dan untuk INCO berada di level Rp 11.700/unit.

Seluruh level ATH dibukukan oleh ketiga perusahaan pada akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008. Kala itu harga-harga komoditas memang sedang moncer-moncernya dan instrumen investasi saham memang sedang menjadi primadona. Tepat sebelum krisis ekonomi global asal Amerika Serikat Subprime Mortgage menghantam pasar saham di seluruh dunia.

Kinerja saham ketiga perusahaan yang sangat berfluktuatif ini tidak terlepas dari kinerja perusahaan yang juga angin-anginan karena fluktuasi harga komoditas meskipun biasanya secara tahunan ketiga perusahaan ini masih mampu membukukan untung bersih.

Tercatat pada 15 kuartal terakhir, ANTM mencetak rugi bersih sebanyak 3 kuartal, TINS mencetak rugi bersih sebanyak 4 kuartal begitupula INCO yang mencetak rugi bersih sebanyak 4 kuartal.

Hal inilah yang tentu menjadi pertimbangan para fund manager maupun investor asing dalam berinvestasi di ketiga saham tersebut. Tentunya para investor raksasa ini tidak mau nilai investasinya tiba-tiba anjlok karena performa kuartalan yang buruk dan sulit diprediksi.

Catat saja kepemilikan asing di saham non warkat alias scripless di saham ANTM hanya sebesar 20,67% dibandingkan dengan lokal yang memegang 79,33%.

Selanjutnya kepemilikan asing di saham TINS sedikit lebih baik yakni 23,88% dibandingkan dengan kepemilikan lokal sebesar 76,12%.

Kondisi terbaik terjadi pada kepemilikan asing di saham publik INCO meskipun memang masih di dominasi oleh investor lokal yakni kepemilikan foreign sebesar 40,14% dibandingkan dengan lokal yang menguasai sebesar 59,86%.

Dengan adanya Holding Indonesian Battery ini diharapkan kinerja ketiga perusahaan tersebut bisa menjadi konsisten membukukan untung bersih setiap kuartalnya bak perbankan-perbankan raksasa yang menjadi primadona investor asing.

Apalagi mengingat proyek pabrik baterai kendaraan listrik ini diperkirakan akan bernilai sebesar US$ 20 miliar (Rp 296 triliun, asumsi kurs Rp 14.800/US$). Nilainya lebih besar dari perkiraan MIND ID yakni sebesar US$ 12 miliar.

Harapan itu terlihat dari aksi beli bersih asing yang sudah mulai masuk kedalam ketiga saham tersebut selama 6 bulan terakhir. Tercatat ANTM diborong bersih asing sebesar Rp 20,37 miliar, TINS diserok asing Rp 40,55 miliar, sedangkan INCO dikoleksi asing Rp 88,82 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading