Fakta Sedih, Di Balik Viral Solidaritas Burger King-McD dkk

Market - sef, CNBC Indonesia
07 November 2020 07:58
Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Bila dikaitkan dengan kinerja emiten-emiten yang berada di industri, ini akan benar terlihat. Misalnya PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) dan PT Jaya Bersama Indonesia Tbk (DUCK). Kinerja ketiga emiten ini ambles pada kuartal II-2020.

Ketiga perseroan belum menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2020. Namun laporan kuartal II sudah menunjukkan betapa terpukulnya perusahaan perusahaan tersebut.

Fast Food Indonesia, yang merupakan pemilik waralaba Kentuky Fried Chicken (KFC), pada kuartal II mengalami kerugian hingga Rp 142 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, perseroan tercatat membukukan keuntungan Rp 157,52 miliar.


Pandemi covid-19 telah membuat pemerintah mengeluarkan keputusan menutup tempat-tempat umum, termasuk restoran cepat saji. Ini membuat pendapatan FAST anjlok 25,4% menjadi Rp 2,5 triliun dari Rp 3,37 triliun.

Lalu Sari Melati Kencana, pemilik restoran waralaba Pizza Hut di Indonesia. Labanya mengalami penurunan hingga 89,49% menjadi Rp 10,47 miliar saja, tahun lalu pada periode yang sama tercatat labanya sebesar Rp 99,65 miliar.

Setali tiga uang, pendapatan Sari Melati Kencana ambles 6,06% menjadi Rp 1,81 triliun dari Rp 1,94 triliun. Nasib yang sama juga terjadi di pada pemilik restoran The Duck King, Jaya Bersama Indonesia.

Laba perusahaan dengan kode saham DUCK ini ambles Rp 71,09% menjadi Rp 26,78 miliar dari Rp 92,64 miliar. Pendapatan perseroan tercatat ambles 62,08% menjadi Rp 152,80 miliar, dari sebelumnya Rp 402,91 miliar.

Ini memberikan gambaran kondisi sektor makanan dan minuman alias food and beverages memang sedang terpuruk.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading