Rupiah Melesat 1,5% di Oktober, tapi Raja Asia Jatuh ke .....

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 November 2020 17:43
FILE PHOTO: U.S. dollar bills lie with old coins and currency notes at a money changer booth along a road in Karachi December 29, 2011. REUTERS/Akhtar Soomro/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar menguat cukup tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang bulan Oktober. Mata uang Garuda bahkan mampu menguat setiap pekannya.

Namun, penguatan rupiah tidak lepas dari dolar AS yang sedang lesu. Hal tersebut terindikasi dari mayoritas mata uang utama Asia yang mampu menguat.

Melansir data Refintiv, sepanjang bulan Oktober rupiah menguat 1,48%. Dengan penguatan tersebut, rupiah menjadi runner up di Asia, hanya kalah dari won Korea Selatan yang melesat 2,42%.


Rupee India menjadi mata uang dengan kinerja terburuk dengan pelemahan 1,35%, kemudian peso Filipina dan dolar Singapura melemah tipis masing-masing 0,12% dan 0,06%.

Dolar AS mengalami tekanan di bulan Oktober, baru pada pekan lalu mulai bangkit setelah stimulus fiskal di AS dipastikan tidak akan cair sebelum pemilihan presiden (pilpres) Selasa 3 November waktu setempat.

Setelah pilpres selesai, maka fokus akan tertuju pada stimulus fiskal di AS. Cepat atau lambat stimulus tersebut akan cair, dan saat itu terjadi jumlah uang yang bereda di perekonomian akan bertambah. Secara teori, dolar AS akan melemah.

Tekanan bagi dolar AS akan lebih besar seandainya Joe Biden memenangi pilpres, sebab stimulus fiskal diperkirakan akan lebih besar ketimbang jika Donald Trump melanjutkan periode pemerintahannya.

Survei yang dilakukan oleh NBC News/Wall Street Journal menunjukkan Joe Biden unggul dengan memperoleh 52% suara dalam survei tersebut, sementara Donald Trump 42%.
Hal tersebut membuat dolar AS masih belum terlalu perkasa berhadapan dengan mata uang utama Asia.

Di sisi lain, rupiah mendapat tenaga untuk menguat setelah Pembatasan Social Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta akhirnya kembali dilonggarkan pada bulan lalu.

Pada pertengahan September lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengetatkan PSBB akibat peningkatan kasus pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Meski demikian, PSBB tersebut tidak seketat di bulan April lalu.

Pekerja, baik di pemerintahan maupun swasta, tetap bisa pergi ke kantor meski ada pembatasan.

Sementara restoran, baik yang terpisah (stand alone) maupun di pusat perbelanjaan, masih boleh buka. Akan tetapi tidak boleh menerima pengunjung untuk makan-minum di tempat, hanya melayani pesan-antar (delivery) atau pesan-bawa pulang (take away).

Meski tidak seketat PSBB di bulan April, tetapi tetap saja membebani pemulihan ekonomi Indonesia.

Gubernur Anies akhirnya kembali melonggarkan PSBB dan menerapkan masa transisi sejak 12 Oktober, sehingga laju pemulihan ekonomi bisa terakselerasi lagi, dan diharapkan bisa tumbuh di kuartal IV-2020.

Untuk kuartal III-2020 sudah dipastikan akan terkontraksi (tumbuh negatif). Indonesia sudah pasti mengalami yang pertama kalinya dalam 22 tahun terakhir, tetapi seberapa besar kontraksi ekonomi yang menjadi misteri, dan dinanti pelaku pasar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ekonomi kuartal III-2020 akan berada di kisaran minus 1% hingga 2,9%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2020 akan dirilis pada 5 November mendatang, setelah mengalami kontraksi 5,32% di kuartal II-2020.

IMF memprediksi perekonomian Indonesia akan minus 1,5% sepanjang tahun ini, sementara di tahun depan tumbuh 6,1%.

Ekonomi Korea Selatan Bangkit, Won Terbaik
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading