Begini Valuasi Wajar Saham BRIS Pascamerger, Mahalkah?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
27 October 2020 08:04
Merger bank syariah BUMN/dok BUMN

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren penurunan harga saham PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) akhirnya selesai. Setelah sebelumnya anjlok menyentuh level auto reject bawah (ARB) selama 3 hari perdagangan berturut-turut, Senin kemarin (26/10/20) saham BRIS berhasil naik tipis 3,31% ke level harga Rp 1.250/saham.

Sempat anjloknya BRIS ke level ARB-nya selama 3 hari beruntun tidak lepas dari harga cash offer (penawaran pembelian saham oleh pengendali dalam rangka merger bank syariah BUMN) saham BRIS yang hanya berada di kisaran Rp 781/saham.

Harga Rp 781/saham ini sendiri didapatkan dari valuasi harga wajar BRIS oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Suwendho, Rinaldy dan Rekan.


BRIS saat ini memang dalam proses merger menjadi survivor dengan menerima penggabungan dua bank syariah BUMN lainnya yakni PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS) dengan target efektif rampung pada 1 Februari 2021.

Setelah merger nantinya hasil leburan bank syariah yang menurut kabar yang beredar di kalangan para pelaku pasar akan dinamakan Bank Amanah ini akan menjadi perbankan syariah dengan aset, pembiayaan, dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) terbesar di Indonesia.

Akan tetapi bagaimana sebenarnya valuasi bank syariah hasil merger ini per Februari 2021?

Hal ini karena, seperti diketahui harga wajar Rp 781/saham ini merupakan harga wajar BRIS going concern per Juni 2020 dan bukan harga wajar 'Bank Amanah' per Februari 2021.

Sebab itu, tentunya para investor sudah memandang ke depan dan memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap saham ini sehingga melakukan pricing-in terhadap saham BRIS saat ini.

Namun ada kabar kurang mengenakkan bagi para investor BRIS.

Setelah merger, nilai buku BRIS akan tergerus. Menurut perhitungan Tim Riset CNBC Indonesia, nilai buku BRIS yang telah dilebur berpotensi tergerus ke angka Rp 499/unit yang mencerminkan valuasi harga pasar dibandingkan dengan nilai buku (price t book value, PBV) sebesar 2,5 kali di harga saat ini.

Meskipun demikian nantinya laba per saham BRIS juga berpotensi naik karena BSM dan BNIS yang dilebur lebih profitable dibanding BRIS.

Di posisi saat ini, dengan laba bersih sebesar Rp 117 miliar per Juni 2020, maka laba per saham (earnings per share/EPS) pemegang saham BRIS jika disetahunkan adalah Rp 24/saham.

Setelah dilebur, total laba bersih 'Bank Amanah' akan sebesar Rp 1,1 triliun.

Atau, apabila disetahunkan akan berada di angka Rp 2,2 triliun, yang merepresentasikan EPS sebesar Rp 53,8/unit atau kenaikan sebesar 124,16% yang merepresentasikan valuasi harga pasar dibandingkan dengan laba bersih (PER) di angka 24,16 kali.

Apabila menggunakan rasio pembagian dividen (DPR) BRIS tahun sebelumnya yakni 10%, hal ini merepresentasikan imbal hasil dividen atau dividend yield sebesar 0,4%.

Nah apakah rasio-rasio valuasi ini tergolong murah ataupun mahal apabila dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain yang sejenis alias peers company?

Well, apabila para investor ingin melakukan perbandingan valuasi tentunya akan mengalami kesulitan karena perbankan syariah yang melantai di Bursa Efek Indonesia hanyalah tiga emiten.

Pertama adalah BRIS sendiri, selanjutnya adalah PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS). Ketiga, PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) yang merupakan saham gocap alias saham yang telah anjlok ke level terendah yang diijinkan oleh regulator, sehingga analisis relative valuation sulit dilakukan karena rata-rata valuasi akan condong ke arah tertentu alias skewed.

Maka dari itu Tim Riset CNBC Indonesia mengkompilasi valuasi perbankan syariah publik yang menjadi pemimpin pasar alias market leader di negaranya masing-masing, sehingga komparasi dengan BRIS yang nantinya akan menjadi market leader di Indonesia akan lebih objektif.

Simak tabel berikut:

Di posisi pertama muncul nama Al Rajhi Bank asal Arab Saudi.

Meskipun menempati posisi wahid sebagai perbankan syariah beraset terbesar di dunia ternyata memiliki valuasi yang tergolong wajar dengan valuasi PER di angka 17,9 kali.

Jumlahnya sedikit berada di atas rata-rata perbankan syariah yang di analisis dan metode valuasi PBV di angka 3,2 kali berada di atas rata-rata perbankan syariah global di angka 2,05 kali.

Meskipun PBV-nya tergolong mahal Al Rajhi Bank memiliki imbal hasil dividen di atas rata-rata yakni 4,5%.

Sedangkan untuk valuasi perbankan syariah di pasar modal global termurah jatuh kepada Al Baraka Banking Group asal Bahrain dengan PER di angka 3 kali, PBV di angka 0,2 kali, dan dividend yield di angka 7,8%.

Akan tetapi perlu diingat Bursa Efek Bahrain, tempat Al Baraka Melantai merupakan bursa efek kecil baik dari segi transaksi maupun kapitalisasi bursa sehingga sahamnya jarang dilirik oleh investor baik dari luar negeri maupun dalam negeri sehingga sahamnya kurang atraktif diperdagangkan.

Untuk saham BRIS, baik dengan metode valuasi PER, PBV, maupun ternyata perbandingan dividend yield sudah tergolong mahal dan berada di atas rata-rata perbankan syariah global.

Tercatat PER BRIS yang meskipun meningkat pascamerger di harga Rp 1.250/unit saat ini masih tergolong mahal karena PER-nya berada di angka 23,2 kali, berada di atas rata-rata market leader perbankan syariah lain di angka 17,3 kali.

Selain itu tercatat valuasi PBV BRIS berada di angka 2,5 kali.

Valuasi ini tergolong mahal karena berada di atas rata-rata perbankan syariah global di angka 2,05 kali dengan yield yang tergolong mini karena jauh berada di bawah rata-rata yakni 0,4% dibandingkan dengan 3,71%.

Sebagai catatan, PBV digunakan untuk melihat seberapa besar kelipatan dari nilai pasar saham perusahaan dengan nilai bukunya.

Besaran PBV, misalnya sebesar 2 kali, berarti harga saham naik dua kali lipat dibandingkan kekayaan bersih suatu perusahaan, atau harga sahamnya 2 kali lipat lebih mahal dari modal bersihnya.

Akan tetapi, meskipun angka valuasi 'Bank Amanah' masih tergolong mahal tentunya terdapat potensi kenaikan laba bersihnya pascamerger karena nantinya bank ini akan menjadi bank syariah terbesar di Indonesia dari segi aset, pembiayaan, maupun penghimpunan DPK.

Merger juga akan meningkatkan skala ekonomi 'Bank Amanah' dan akan meningkatkan efisiensi.

Nah, nantinya seberapa besar kemampuan 'Bank Amanah' dalam memanfaatkan dominasinya di pasar perbankan syariah ini lah yang tentu akan dipantau oleh para investor.

Apalagi kabar baiknya, BRIS mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada 9 bulan pertama tahun ini atau periode hingga triwulan III 2020, sebesar 238% menjadi Rp 190,58 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni Rp 56,46 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading