Lo Kheng Hong: "Saya Beli Saham Batu Bara Ketika Bad Time!"

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
26 October 2020 08:05
Lo Kheng Hong/Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu investor saham paling sukses di negeri ini adalah Lo Kheng Hong yang juga dikenal sebagai Warren Buffetnya Indonesia. Dia dikenal dengan sebutan tersebut karena memiliki strategi untuk berinvestasi saham dan membiarkan investasinya ini hingga bertahun-tahun hingga menghasilkan capital gain yang besar (value investing).

Usut punya usut, salah satu sektor yang paling disukai oleh dia adalah sektor komoditas. Tak pakai alasan yang berbelit-belit, dia mengungkapkan alasannya hanya karena harga komoditas yang selalu berfluktuasi.

Beberapa saham yang pernah dikoleksinya di sektor ini seperti PT Timah Tbk (TINS), PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP).


"Jadi saya beli [saham] batu bara ketika bad time, masih murah karena saya tau harganya bisa kembali lagi. Ketika harga baru bara naik perusahaannya untung, harga sahamnya naik 4.000% dan saya jual," kata Lo Kheng Hong dalam acara Capital Market Summit & Expo 2020 yang diselenggarakan secara virtual, akhir pekan lalu.

"Kalau saya beli saham lain mungkin tidak bisa dapat capital gain tidak sebesar itu, saya suka komoditas karena capital gain yang sangat besar," ungkap dia.

Namun demikian, memilih sektor tertentu bukan satu-satunya cara yang dilakukannya untuk mendapatkan keuntungan besar dalam berinvestasi saham. Sebab, menurut dia investor juga perlu melakukan riset dan banyak membaca untuk menemukan saham-saham yang saat ini dinilai masih murah.

"Setiap hari saya membaca empat koran, membaca laporan keuangan dan membaca keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia. Dulu webnya masih sangat lambat, tapi sekarang sudah cepat sekali," paparnya.

Hal ini dilakukannya agar tidak berinvestasi di saham-saham yang salah.

Salah satu cerita yang masih diingatnya saat pertama kali menjadi investor pada saham INDY pada 2016. Dia membeli saham ini saat harga batu bara dunia berada di harga terendah dan harga saham perusahaan anjlok ke Rp 106/saham.

Memanfaatkan kesempatan ini, dia memborong saham INDY hingga menjadi pemegang saham terbesar nomor 4 di perusahaan tersebut.

"Saham itu saya pegang dua tahun. Di awal 2018 harga batu bara naik dari US$ 50 menjadi US$ 100. Indika Neergy akan untuk besar hingga harga sahamnya pun naik jadi Rp 4.550 yang tertinggi. Dan pada saat di Rp 4000 lebih itu saya menjual," kenangnya.

Untuk itu, salah satu filosofi investasi yang selalu dipegangnya adalah invest in bad time and sell in good time and you will get rich. "Kalau situasi buruk semuanya jadi murah," tandasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading