Saham BMTR Ambles, Bagaimana Nasib Investasi Lo Kheng Hong?

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
30 September 2020 09:30
Hary Tanoe & Lo Kheng Hong/Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Masih segar tentunya di ingatan para pelaku pasar pada awal bulan Agustus para investor dibuat geger dengan beredarnya foto investor saham berbasis nilai (value investor) kawakan Lo Kheng Hong bersama dengan pemilik Grup Media Citra Nusantara (MNC) Group, Hary Tanoesudibjo.

Munculnya foto kedua pria yang akrab disapa dengan sebutan LKH dan HT sedang menikmati makanan. Saat foto tersebut beredar luas, saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) yang merupakan induk usaha bisnis media Grup MNC, melesat dan menyentuh level auto reject atas (ARA).

Berkembang spekulasi mengenai hal ini. Foto tersebut ditangkap investor bahwa Lo Kheng Hong masuk ke saham-saham Grup MNC, sebagaimana ramai disinggung di grup-grup analis.


Esoknya setelah liar di awal perdagangan dan sempat melesat hingga 15,9% saham BMTR terpaksa ditutup terkoreksi mendekati level auto reject bawah alias ARB. Hari berikutnya hal yang sama terjadi, sempat liar di awal perdagangan dengan kenaikan 4,8% saham BMTR terpaksa ditutup anjlok ke level ARB-nya yakni 6,45%.

Pertanyaan investor mengenai beredarnya foto LKH dengan HT akhirnya terjawab tepatnya pada hari kemerdekaan Indonesia yakni 17 Agustus 2020 dimana tentunya pasar sedang diliburkan.

Melalui keterbukaan informasi yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) ternyata benar adanya LKH masuk ke saham BMTR melalui skema aksi korporasi Penambahan Modal Tanpa Melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement di harga sebesar Rp 200/saham.

Bahkan sebelum masuk melalui skema PP, pria yang dikenal dengan julukan Warren Buffet Indonesia ini ternyata sudah masuk dengan mencicil saham BMTR terlebih dahulu. Melalui keterbukaan informasi yang dirilis oleh BEI, LKH membeli sebanyak 767.145.600 saham BMTR.

Total dana yang digelontorkan oleh LKH sendiri sebesar Rp 153,4 miliar dengan rata-rata pembelian BMTR di harga Rp 200,013/unit saham yang disebutkan dibeli dengan tujuan untuk investasi. Secara total sendiri LKH memegang 942 juta saham BMTR atau 6,01% saham BMTR per 30 Agustus 2020.

Ketika pasar dibuka setelah libur Kemerdekaan Tanah Air, pelaku pasar merespons berita ini dengan memborong saham BMTR, sontak saja saham Induk Grup MNC ini kembali terbang 25% menyentuh level ARA.

Kenaikan BMTR kembali dilanjutkan pada hari perdagangan berikutnya dengan kenaikan 11,03% bahkan sempat naik mendekati level ARA 23,44% di level tertingginya pasca diserang virus corona di angka Rp 358/unit.

Setelah hari tersebut saham BMTR tidaklah sama lagi, tercatat dari titik tertingginya BMTR terus anjlok secara perlahan-lahan hingga ditutup pada perdagangan kemarin (29/9/20) di angka Rp 208/unit mendekati harga rata-rata pembelian Lo Kheng Hong atau sudah turun 41,8% dari titik tertingginya.

Bahkan pada perdagangan sebulan terakhir tercatat BMTR hanya menghijau sebanyak 4 kali, 1 kali stagnan, dan sisanya 17 kali terkoreksi. Pada periode ini BMTR anjlok 30,20%.

Lalu bagaimana nasib investasi Long Khing Hong sang maestro value investing Indonesia? Dalam keterbukaan informasi BEI, LKH memegang lebih dari 5% saham perusahaan milik Hary Tanoe tersebut, tetapnya 6,01%.

Tercatat melalui keterbukaan BEI, per 30 Agustus jumlah pemegang saham BMTR adalah sebanyak 19.134 investor, meningkat sebanyak 9.805 investor atau lebih dari dua kali lipat dari posisi bulan sebelumnya yang hanya berada di angka 9.329 investor.

Data perdagangan sendiri mencatat di pasar reguler sejak bergerak liar 12 Agustus lalu, broker pembeli bersih saham BMTR terbanyak adalah broker PT Mirae Asset Sekuritas (YP), PT Mandiri Sekuritas (CC), PT Indo Premier Sekuritas (PD), PT Panin Sekuritas (GR), PT Philip Sekuritas (KK), PT BNI Sekuritas (NI), PT Sinarmas Sekuritas (DH), dan PT BCA Sekuritas (SQ) yang notabene merupakan broker-broker yang sering dipergunakan oleh investor ritel untuk bertransaksi.

Sedangkan broker yang paling getol menjual saham BMTR adalah PT CGS CIMB Sekuritas (YU) yang melakukan jual bersih BMTR sebanyak 6,15 juta lot di harga rata-rata RP 279/unit dan PT MNC Sekuritas (EP) yang notabene merupakan MNC Group dengan jual bersih sebanyak 1,38 juta lot di harga rata-rata penjualan Rp 292/unit.

Total penjualan 5 broker dengan net sell terbesar dalam kurun waktu satu setengah bulan terakhir sendiri mencapai 9,95 juta lot saham BMTR atau mencakup 6,20% total saham BMTR. Rata-rata transaksi pada kurun waktu tersebut sendiri berada di angka Rp 284/unit sehingga kemungkinan besar tambahan 9.805 investor BMTR pada bulan Agustus merupakan investor 'nyangkut' dan bukan tidak mungkin akan bertambah jumlahnya pada rilis keterbukaan pemegang saham bulan September.

Sebenarnya ketika LKH mengkonfirmasi CNBC Indonesia dengan mengatakan bahwa saham BMTR merupakan saham dengan fundamental bagus dengan valuasi murah beliau tidaklah salah.

"BMTR perusahaan yang bagus, di tengah Pandemi masih bisa membukukan laba Rp 551 miliar," kata Lo Kheng Hong yang juga memegang saham PT Petrosea Tbk (PTRO) ini, kepada CNBC Indonesia, Selasa (18/8/2020).

"Valuasi [BMTR] juga murah," jelasnya.

Memang di atas kertas valuasi BMTR tergolong amat sangat murah, catat saja apabila menggunakan metode valuasi harga pasar dibandingkan dengan pendapatan perusahaan alias PER, BMTR memiliki rasio PER sebesar 3,10 kali jauh di bawah rata-rata industri media yang berada di angka 35,9 kali seperti dikutip dari Refinitiv.

Sedangkan apabila investor menggunakan rasio nilai buku dibandingkan dengan harga pasarnya (PBV) maka lagi-lagi BMTR tergolong saham yang sangat murah sebab PBV nya berada di angka 0,30 kali juga berada di bawah rata-rata industri yakni 2,1 kali.

Akan tetapi satu hal yang harus diperhatikan para investor selain valuasi suatu perusahaan komitmen emiten membagikan dividen. Tercatat BMTR dari tahun ke tahun selalu membukukan laba yang jumbo tapi perusahaan sudah 2 tahun tidak membagikan dividen.

Selain itu perusahaan juga akhir-akhir ini getol menerbitkan saham baru dengan skema private placement. Setelah melaksanakan PP di harga Rp 200/unit dengan LKH sebagai pembeli, BMTR baru-baru ini melakukan  private placement dengan menerbitkan 549 juta lembar saham baru di harga Rp 282 yang diserap oleh perusahaan asal Singapura, Marco Prince Corp.

Penelurusan CNBC Indonesia tidak menemukan website perusahaan maupun ultimate shareholder perusahaan asal Negeri Singa ini.

Bahkan sebelumnya BMTR juga sudah menerbitkan Private Placement yang diserap oleh Charlton Group Holdings Ltd. yang pada 2018 silam sudah pernah menyuntik dana ke BMTR. BMTR menerbitkan 700 juta lembar saham baru di harga Rp 200.

Menurut penelusuran CNBC Indonesia tidak terdapat situs resmi Charlton Group Holdings Ltd. Perusahaan ini disebut berbasis di Kepulauan Virgin Britania Raya (BVI) dengan kegiatan usaha investasi.

Sempat ada informasi, pemegang saham Charlton Group adalah Doncaster Holdings Group Limited. Namun tidak tersedia informasi yang memadai terkait Doncaster Holding.

Kepualauan Virgin Britania Raya sendiri merupakan negara yang populer bagi pebisnis yang ingin mendirikan perusahaan offshore yang bebas pajak ataupun shell company.

Penerbitan saham secara terus menerus ini tentu saja membuat para investor mengangkat alis sebab value investor kawakan Warren Buffet pernah menyebutkan bahwa perusahaanya Berkshire Hathaway tidak akan pernah berinvestasi di perusahaan yang doyan menerbitkan saham baru karena perilaku tersebut merupakan indikator pasti bahwa perusahaan memiliki akuntansi yang lemah, harga saham yang terlalu mahal, dan seringkali ketidakjujuran perusahaan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(RCI/RCI)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading