Sambut Data Ekonomi China, Bursa Saham Asia Pesta Pora!

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
19 October 2020 08:48
People walk past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, Dec. 11, 2019. Asian stock markets have risen following a report President Donald Trump plans to delay a tariff hike on Chinese goods. (AP Photo/Eugene Hoshiko) Foto: Bursa Jepang (Nikkei). (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia pada perdagangan awal pekan (19/10/2020) mayoritas dibuka di zona hijau, jelang rilis data pertumbuhan ekonomi di China.

Tercatat indeks Nikkei di Jepang dibuka menguat 0,57%, Hang Seng di Hong Kong melonjak 0,90%, Shanghai China terapresiasi 0,44%, STI Singapura naik 0,31% dan KOSPI Korea Selatan melesat 0,56%.

Bursa Asia dibuka di zona hijau karena pelaku pasar Asia optimistis dengan data pertumbuhan ekonomi di China.


Konsensus pasar yang dihimpun oleh Reuters memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) China naik 5,2%. Artinya, ekonomi China sudah sangat dekat dengan level sebelum pandemi.

"China menjadi negara besar pertama yang kembali ke jalur pertumbuhan ekonomi. Ini bisa terjadi berkat penanganan pandemi yang cepat serta respons stimulus yang efektif," sebut riset Capital Economics.

Ketika banyak negara berjuang keras untuk segera keluar dari resesi, tidak demikian dengan China. Kontraksi ekonomi sejauh ini cuma berlangsung pada kuartal I-2020, setelah itu tidak ada kelanjutan.

Selain China, Jepang hari ini juga akan merilis data ekspor-impor pada September 2020. Konsensus yang dihimpun oleh Reuters memperkirakan angka ekspor Jepang tumbuh negatif 2,4%. Sedangkan angka impor Jepang diperkirakan tumbuh negatif 21,4%.

Beralih ke Amerika Serikat (AS), pada perdagangan Jumat (16/10/2020), akhir pekan lalu, bursa Wall Street kembali menguat setelah beberapa hari sebelumnya mengalami pelemahan.

Dow Jones menguat 110,703 poin atau naik 0,39% ke 28.606,31. Sementara S&P 500 naik tipis 0,02% atau 0,47 poin ke 3.483,81. Namun berbeda dengan Nasdaq yang turun 0,36% atau 42,31 poin ke 11.671,56.

Tarik ulur stimulus fiskal di AS masih menjadi sentimen utama pada pekan lalu.

Mengenai stimulus, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan kepada Ketua Parlemen Nancy Pelosi bahwa Presiden Donald Trump akan "mempertimbangkan" dengan Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell jika kesepakatan tercapai tentang paket bantuan pandemi baru.

Pemimpin Partai Republik Kevin McCarthy, bagaimana pun, mengatakan dia tidak mengharapkan kesepakatan akan dicapai menjelang pemilihan pada 3 November selama Pelosi terlibat.

Namun, sentimen positif hadir yang membuat 2 dari 3 indeks di bursa Wall menguat pada pekan lalu.

Mengutip dari Reuters, Sabtu (17/10/2020), Pfizer Inc mengumumkan akan mengajukan otorisasi AS untuk vaksin Covid-19 yang dikembangkannya dengan mitra Jerman BioNTech pada November, hal itu membuat saham Pfizer naik 3,8%.

Sebelumnya, Perusahaan Raksasa farmasi Pfizer berencana meminta restu izin penggunaan darurat (emergency use) dari otoritas kesehatan AS pada November 2020 agar vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkannya bisa digunakan di AS.

Pfizer berharap data keamanan vaksin sudah diperoleh pada minggu ketiga November dan segera mengajukan permohonan penggunaan darurat.

"Jadi dengan asumsi data positif, Pfizer akan mengajukan Emergency Authorization Use (otoritasasi penggunaan darurat) di AS setelah soal keamanan terpenuhi di minggu ketiga November," ujar Chariman dan CEO Pfizer Albert Bourla, seperti dikutip dari AFP, Jumat (16/10/2020).

Selain itu, penjualan retail pada September melampaui ekspektasi analis dan sentimen konsumen untuk bulan ini yang secara mengejutkan meningkat, menurut dua laporan ekonomi secara terpisah.

"Penting dari data penjualan retail untuk melihat bahwa konsumen tidak hanya tertatih-tatih dalam waktu yang lama, tetapi juga melebihi ekspektasi," tambah Mayfield.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading