Merosot Terus, Kurs Dolar Australia Kini di Bawah Rp 10.400!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 October 2020 12:13
An Australia Dollar note is seen in this illustration photo June 1, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration

olafJakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Australia kembali melemah melawan rupiah pada perdagangan Jumat (16/10/2020) hingga ke bawah Rp 10.400/AU$, terendah dalam lebih dari 2 bulan terakhir. Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) yang mengindikasikan akan memangkas suku bunga membuat dolar Australia terus tertekan.

Melansir data Refinitiv, dolar Australia pagi ini melemah 0,27% ke Rp 10.369,02/AU$ di pasar spot. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 4 Agustus lalu. Sepanjang pekan ini, Mata Uang Kanguru merosot sekitar 2,4%.

Gubernur RBA, Philip Lowe, yang berbicara di acara konferensi investasi tahunan Citi Group kemarin pagi mengatakan pelonggaran moneter lebih lanjut akan mendukung pasar tenaga kerja serta mengurangi tekanan dari penguatan dolar Australia.


Data terbaru yang dirilis oleh Biro Pusat Statistik menunjukkan tingkat pengangguran Australia naik menjadi 6,9% pada bulan September, dari bulan sebelumnya 6,8%.

"Ketika pandemi berada di titik terburuk dan diperparah dengan pembatasan aktivitas, kami melihat dampak dari pelonggaran moneter tidak terlalu besar," kata Lowe sebagaimana dilansir news.com.au, Kamis (15/10/2020).

"Saat ekonomi mulai dibuka, akan masuk akan untuk memperkirakan pelonggaran moneter lebih lanjut akan mendorong perekonomian berputar lebih cepat ketimbang sebelumnya," tambahnya.

Lowe juga mengatakan, suku bunga tidak akan dinaikkan setidaknya dalam 2 sampai 3 tahun ke depan.

Hasil survei Reuters menunjukkan RBA diprediksi akan memangkas suku bunga acuan menjadi 0,1% dari saat ini 0,25% di bulan November.
Di awal pekan, dolar Australia tertekan oleh kebijakan bank sentral China (People's Bank of China/PBoC).

PBoC pada Sabtu lalu mengumumkan pelonggaran kebijakan dalam mengambil posisi jual (short) yuan China yang mulai berlaku Senin kemarin. Hal itu dilakukan setelah kurs yuan menguat 6,6% melawan dolar AS sejak bulan Mei.

PBoC memangkas forex risk reserve ratio atau Giro Wajib Minimum (GWM) untuk kontrak forward di pasar valuta asing menjadi 0% dari sebelumnya 20%.
Perbankan yang akan mengambil posisi short kini tidak perlu GWM untuk mengambil posisi short kontrak forward yuan. Sebelumnya, perbankan di China perlu GWM sebesar 20% dari total nilai transaksi.

"Penghilangan GWM sebesar 20% membuat pelaku pasar bisa ikut mengambil posisi short yuan. Perubahan kebijakan tersebut terjadi setelah yuan mencapai rekor terkuat sejak April 2019," kata Kim Mundy, ahli strategi di Commonwealth Bank of Australia, sebagaimana dilansir poundsterlinglive, Senin (12/10/2020).

Dolar Australia dikatakan memiliki korelasi yang positif yang kuat dengan yuan China, sebab kedua negara merupakan mitra dagang utama. Outlook perekonomian China juga kerap dikaitkan dengan outlook Australia.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading