Selain China, RI Kolaborasi Dengan 5 Negara "Buang" Dolar AS

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
04 October 2020 14:40
Ilustrasi Yuan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) menjalin kerja sama penggunaan mata uang lokal dengan bank sentral China (PBC). Kerja sama ini disebut Local Currency Settlement (LCS)

"Gubernur PBoC Yi Gang dan Gubernur BI Perry Warjiyo telah menyepakati pembentukan kerangka kerja sama untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dan investasi langsung (Local Currency Settlement/ LCS). Kesepakatan tersebut dituangkan melalui penandatangan Nota Kesepahaman. Hal tersebut akan memperluas kerangka kerja sama LCS yang telah ada antara BI dengan Bank of Thailand, Bank of Negara Malaysia, dan Kementerian Keuangan Jepang," sebut keterangan tertulis BI yang diterbitkan Rabu (30/9/2020).

Melalui kerja sama ini, PBoC dan BI sepakat untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung. Hal tersebut meliputi, antara lain, penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung dan perdagangan antarbank untuk mata uang yuan dan rupiah. Kerja sama ini akan diperkuat melalui berbagi informasi dan diskusi secara berkala antara otoritas China dan Indonesia.


Penggunaan mata uang lokal dalam investasi dan perdagangan dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Kolaborasi RI-China untuk "membuang" dolar AS atau mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS sudah berlangsung cukup lama. Pada November 2018 lalu, BI juga memperpanjang kerja sama Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) dengan PBC, bahkan nilainya dinaikkan ketimbang sebelumnya

Kesepakatan yang diteken Gubernur Perry dengan Gubernur Yi Gang, nilainya mencapai CNY 200 miliar, atau setara US$ 30 miliar, naik dari sebelumnya CNY 100 miliar. BCSA tersebut juga berlaku selama 3 tahun.

"Kesepakatan tersebut mencerminkan penguatan kerja sama moneter dan keuangan antara BI dengan PBC, serta menunjukkan komitmen kedua bank sentral untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah ketidakpastian pasar keuangan global," tegas Gubernur Perry dalam rilis BI 19 November 2018 lalu.

Pada akhir tahun 2018 lalu, pasar keuangan global dipenuhi ketidakpastian akibat perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi tajam, pada 11 Oktober 2018 menyentuh Rp 15.265/US$, merosot lebih dari 12% secara year-to-date (YTD). Posisi rupiah kala itu berada di level terlemah sejak krisis moneter 1998.

Setelahnya memperpanjang BCSA posisi nilai tukar rupiah membaik, di akhir 2018 depresiasi rupiah tersisa 6%.

Negara-Negara yang Berkolaborasi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading