Laba Bank Diramal Drop, Saham BBCA, BBRI & BNGA Malah Melesat

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
21 September 2020 10:11
PT Bank Central Asia Tbk. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham-bank-bank BUKU IV atau bank umum kelompok usaha dengan modal inti di atas Rp 30 triliun bergerak variatif cenderung naik di tengah sentimen independensi Bank Indonesia (BI) dan prediksi laba bersih perbankan Indonesia yang bakal tergerus di akhir tahun.

Berikut pergerakan saham bank BUKU IV, pada perdagangan awal sesi I, pukul 09.40 WIB.


- PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) Rp 2.330/saham, turun 2,10%, year to date/ytd minus 41,01%

- PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) Rp 780/saham, turun 0,64%, ytd minus 41,57%

- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 4.740/saham, stagnan, ytd minus 39,75%

- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 5.575/saham, stagnan, ytd turun 27,64%

- PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Rp 775/saham, naik 1,31%, ytd 20,21%

- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 28.450/saham, naik 1,07%, ytd turun 14,96%

- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 3.230/saham, naik 0,62%, ytd minus 26,36%

Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menguat 0,20% di level 5.069 dengan catatan 193 saham naik, 168 saham turun, dan 155 saham stagnan.

Pekan lalu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memperkirakan hingga akhir tahun nanti bank nasional akan mengalami penurunan profit atau laba bersih kisaran 30%-40% karena tak adanya pembayaran bunga dari debitur.

"Ini kalau tidak kita lakukan dengan baik, resiko akan besar perbankan tidak akan kuat menahan terlalu lama profit and loss-nya. Nasabah dalam restrukturisasi lancar tapi revenue perbankan turun drastis tadi Rp 863 triliun restrukturisasi masih nunggak bunga dan pokok dan revenue perbankan turun, tapi bunga deposito kan dibayar terus," kata Wimboh dalam webinar, Jumat (18/6/2020).

"Diperkirakan kita punya potensi penurunan keuntungan perbankan 30-40% di akhir tahun ini. Kita harapkan tahun depan sudah mulai lagi [membaik]," jelas dia.

Menurut Wimboh, penurunan ini hanya akan terjadi hingga akhir tahun ini saja, pasalnya restrukturisasi telah mengalami tren penurunan dengan puncaknya terjadi pada Mei dan Juni 2020 lalu.

Meski memang diperkirakan nilai restrukturisasi mencapai 40% dari total baki debet perbankan atau mencapai Rp 1.376,6 triliun.

Kinerja perbankan diperkirakan baru akan membaik pada 2022 nanti, meski tahun depan diprediksi kinerja bank-bank ini kembali membaik.

OJK mencatat hingga 24 Agustus 2020, nilai restrukturisasi kredit perbankan mencapai Rp 863,62 triliun. Restrukturisasi ini bisa berupa penundaan pembayaran bunga dan pokok maupun haircut bergantung kepada kondisi masing-masing debitur dan kebijakan bank.

Satu sentimen perbankan lainnya ialah independensi BI di mana pemerintah menyusun aturan yang bakal melimpahkan pengawasan bank kembali ke BI dari OJK dan adanya Dewan Moneter.

Sebelumnya, Sri Mulyani mengatakan, reformasi sistem keuangan memang tengah dikaji. Kajian ini disusun dengan mempertimbangkan perkembangan sektor keuangan saat ini dan asesmen forward looking, termasuk merujuk pada hasil evaluasi simulasi pencegahan dan penanganan krisis yang dilakukan secara berkala oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

"Kami lakukan simulasi dalam konteks KSSK dalam identifikasi dan melihat faktor-faktor atau hal-hal yang bisa diidentifikasikan dalam rangka perbaiki Stabilitas sistem keuangan," ujar Sri Mulyani secara virtual, Jumat (4/9/2020).

Menko Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan juga mengatakan secara gamblang bahwa saat ini tengah difinalisasi aturan reformasi sistem keuangan. Reformasi sistem keuangan ini digulirkan melalui sebuah Perppu [Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang].

Luhut bercerita adanya reformasi sistem keuangan ini berangkat dari krisis yang tengah mendera Indonesia dari sektor kesehatan yang bisa mengarah ke sektor ekonomi. Adanya aturan yang tak sempurna bisa akibatkan bahaya.

"Ini kita bisa melihat bahwa memang dalam keadaan krisis ada ketidakpasan Peraturan Perundang-undangan ketiga institusi BI [Bank Indonesia], LPS [Lembaga Penjamin Simpanan] maupun OJK [Otoritas Jasa Keuangan]," katanya.

"Ini Presiden minta melihat semua. Tanpa hilangkan Independensi BI. Yang diberitakan Dewan Moneter saya pastikan tidak ada itu."


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI di Ambang Resesi, Ini Arahan OJK buat Perbankan RI


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading