Batu Bara Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan, Ini Obat Kuatnya

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
18 September 2020 11:15
An undated handout photo of Whitehaven Coal's Maules Creek coal mine in New South Wales, Australia.   Whitehaven Coal Ltd/Handout via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVES

Jakarta, CNBC Indonesia - Reli harga batu bara belum berhenti. Sampai dengan penutupan perdagangan Kamis kemarin (17/9/2020), harga batu legam itu masih melesat dan kini berada di level tertinggi lebih dari 3 bulan terakhir.

Harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang aktif ditransaksikan di pasar ditutup menguat 0,89% ke US$ 56,5/ton dan menandai level tertingginya sejak 4 Juni 2020.


Data pemerintah menunjukkan impor batu bara termal India turun 41,5% menjadi 32,9 juta ton sepanjang kuartal kedua. Penurunan ini diakibatkan oleh kebijakan lockdown untuk menekan penyebaran wabah virus corona yang menurunkan permintaan terhadap listrik.

Reuters melaporkan permintaan listrik India diperkirakan turun untuk pertama kalinya dalam empat dekade dalam tahun fiskal yang sedang berjalan, yang berakhir pada Maret 2021.

Kendati permintaan terhadap batu bara mengalami pelemahan sepanjang delapan bulan terakhir, kenaikan harga batu legam belakangan ini dipicu oleh sentimen positif yang datang dari Negeri Sakura.

Produksi baja mentah (crude steel) Jepang Agustus diperkirakan bakal naik dibanding dengan bulan-bulan sebelumnya. Jika melihat data Juli, produksi baja kasar Jepang sudah mulai rebound.

Argus Media melaporkan produksi baja kasar bulan ketujuh tahun ini mencapai 6 juta ton atau naik 8% dibanding bulan Juni. Pabrik baja Jepang memproyeksikan sedikit pemulihan pada produksi baja Juli-September, didorong oleh kebangkitan industri otomotif domestik negara tersebut.

Nippon Steel berencana untuk meningkatkan produksi baja mentah pada Juli-September sebesar 7% dibandingkan April-Juni menjadi 7,7 juta ton. Output perusahaan Oktober 2020-Maret 2021 diproyeksikan naik 13% dari April-September menjadi 17 juta ton.

JFE Steel juga mengharapkan kenaikan 8% pada produksi baja Juli-September menjadi 5,2 juta ton dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Perusahaan sedang memeriksa kemungkinan melanjutkan blast furnace yang dihentikan setelah Oktober sebagai tanggapan atas pulihnya permintaan.

Kenaikan produksi baja Jepang ini menjadi sentimen positif bagi harga batu bara lantaran kenaikan output memiliki korelasi positif dengan impor batu bara kokas.

Jika industri otomotif Jepang terus bangkit serta produksi baja terus mengalami pemulihan, maka kebutuhan batu bara kokas juga akan berangsur membaik. Ini akan menjadi sentimen positif yang diharapkan mampu mengerek harga batu bara yang selama ini tertekan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading