Wall Street Merah Gak Ngaruh! Bursa Asia Malah "Pesta Pora"

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
18 September 2020 08:43
Kantor pusat KEB Hana Bank di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 23 Juli 2020. (AP/Ahn Young-joon)(AP Photo/Ahn Young-joon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia pada perdagangan Jumat (18/9/2020) dibuka dengan mayoritas di zona hijau, tidak menghiraukan bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street yang ditutup di zona merah pada Kamis (17/9/2020) kemarin atau Jumat pagi waktu Indonesia.

Data perdagangan mencatat, indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,51% , Hang Seng Index di Hong Kong naik 0,17%, Shanghai di China menguat tipis 0,01%, Indeks STI Singapura juga terapresiasi 0,11% dan Kospi Korea Selatan melesat 0,35%.

Namun pada perdagangan 8.42 WIB, Nikkei minus 0,09% dan STI Singapura turun 0,13%.


Di kawasan Asia, hari ini Jepang merilis data inflasi pada Agustus 2020. Tercatat inflasi Agustus secara bulanan (month-on-month/MoM) sebesar minus 0,1%, lebih kecil dari Juli sebesar 0,2%.

Sedangkan, inflasi Agustus secara tahunan (year-on-year/YoY) sebesar 0,2%, lebih rendah dari Agustus tahun sebelumnya sebesar 0,3%.

Adapun inflasi inti Jepang pada Agustus 2020 menurun menjadi minus 0,4% (YoY) dari Agustus 2019 sebesar 0%. Artinya Jepang masih mengalami deflasi.

Beralih ke kiblat pasar modal global Wall Street, dini hari tadi beberapa sentimen negatif yang beredar di pasar membuat tiga indeks saham utama bursa New York jatuh ke zona koreksi.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) terpangkas 130 poin atau 0,47%. Indeks S&P 500 melorot 28,5 poin atau 0,84% dan indeks Nasdaq Composite terkoreksi paling dalam dengan penurunan 140 poin atau 1,27%.

Aksi jual saham-saham teknologi AS membuat indeks tertekan. Saham Facebook dan Amazon ambles masing-masing 3,3% dan 2,3%. Saham Netflix ditutup 2,8% lebih rendah. Saham induk Google yakni Alphabet drop 1,7%. Sementara saham Apple dan Microsoft turun 1%.

Selain valuasi saham-saham terutama untuk sektor teknologi yang dinilai terlalu tinggi, pasar juga merespons informasi seputar vaksin yang simpang siur. Sebelumnya presiden Donald Trump menyebutkan bahwa vaksin dapat didistribusikan di AS mulai Oktober. 

Namun pernyataan berbeda datang dari seorang direktur Center for Disease Control & Prevention (CDC) yang mengatakan kepada parlemen bahwa vaksinasi hanya akan dilakukan kepada segelintir orang tahun ini dan tak akan didistribusikan meluas untuk enam sampai sembilan bulan. 

Pembahasan paket stimulus Covid-19 lanjutan di AS yang macet juga menambah sentimen negatif di pasar.

Di saat yang sama Wall Street juga memandang skeptis kebijakan bank sentralnya, the Fed yang akan menahan suku bunga rendah untuk waktu yang agak lama guna mendongkrak inflasi.

Di tengah merebaknya sentimen negatif dan juga adanya risiko ketidakpastian, terselip satu kabar yang bisa terbilang cukup positif.

Rilis data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan bahwa klaim tunjangan pengangguran untuk pekan lalu yang berakhir di 12 September turun menjadi 860.000 saja lebih rendah survei Do Jones yang memperkirakan klaim tunjangan berada di angka 875.000.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading