Tak Ada Kejutan, Bursa Asia Berakhir di Zona Merah

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
17 September 2020 17:20
A woman walks past an electronic board showing Hong Kong share index outside a local bank in Hong Kong, Monday, April 1, 2019. Shares have surged in Asia following a bullish Friday on Wall Street, where the benchmark S & P 500 logged its biggest quarterly gain in nearly a decade. (AP Photo/Vincent Yu) Foto: Bursa Hong Kong (AP Photo/Vincent Yu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham di kawasan Asia pada perdagangan Kamis (17/9/2020) kompak ditutup melemah seiring respons pelaku pasar terkait keputusan dan hasil rapat bank sentral Amerika Serikat (AS) yang bakal mempertahankan suku bunga acuan rendah ke depan.

Tercatat, indeks Nikkei Jepang melemah 0,67%, lalu indeks Hang Seng Hong Kong yang anjlok 1,56%, disusul indeks Shanghai di China yang turun 0,41%, STI Singapura terdepresiasi 0,17% dan KOSPI Korea Selatan yang terjatuh 1,22%.

Sedangkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditutup anjlok 0,40% di level 5.038,40 setelah keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan.


Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 445 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 6,6 triliun.

Dari AS, Bursa Wall Street ditutup mayoritas melemah pada penutupan perdagangan Rabu (16/9/2020) kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 36,78 poin atau 0,13% menjadi 28.032,38. Sementara dua indeks saham lainnya turun, dengan S&P 500 turun 15,71 poin atau 0,46% menjadi 3.385,49, dan Komposit Nasdaq turun 139,85 poin atau 1,25% menjadi 11.050,47.

Turunnya indeks Nasdaq memperpanjang periode kelemahan untuk saham perusahaan teknologi dan membalikkan reli dua hari.

Pelemahan Bursa Asia selain mengekor dari Bursa Wall Street, hal lainnya adalah dikarenakan hari ini beberapa bank sentral mengumumkan kebijakan moneternya.

Di Jepang, Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga acuannya pada Kamis.  Dalam pernyataan resminya, bank sentral Jepang tersebut menilai ekonomi Negeri Matahari Terbit mulai menguat tetapi masih di "situasi yang berat" akibat dampak pandemi corona.

Sedangkan di AS, bank sentral AS dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) mengindikasikan bahwa tingkat bunga acuan AS bakal tetap rendah mendekati nol persen hingga 2023 sebagai upaya mendorong laju inflasi

"Dengan laju inflasi terus berada di bawah target jangka yang lebih panjang, Komite akan berupaya mencapai inflasi secara moderat di atas level 2% untuk beberapa waktu hingga inflasi rata-rata mencapai 2%," tulis Komite dalam pernyataannya, seperti dikutip CNBC International.

Dalam kondisi normal, prospek suku bunga lebih rendah untuk jangka waktu yang lebih lama bakal mendorong pembelian saham. Namun pada Rabu hal tersebut tidak terjadi di mana indeks S&P 500 dan Nasdaq justru melemah.

Di Eropa, investor akan memantau acuan kebijakan bank sentral Inggris (Bank of England) yang juga menggelar rapat dewan gubernur pada Kamis. Sejauh ini belum ada spekulasi mengenai perubahan kebijakan moneter Inggris secara drastis.

Di Indonesia, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 16-17 September 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di posisi 4%.

Dewan Gubernur BI yang dipimpin oleh Perry Warjiyo sebagai Gubernur menilai langkah tersebut masih konsisten untuk mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.

Hal ini juga sejalan dengan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dimana hasilnya suku bunga acuan tetap bertahan di 4% dalam RDG bulan ini. Seluruh institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus tidak ada yang menyatakan lain, tidak ada dissenting opinion.

Meskipun sudah sesuai ekspektasi para pelaku pasar, tentunya investor kecewa terhadap keputusan BI ini, sebab Indonesia kini berada di ujung jurang resesi dengan masalah daya beli masyarakat.

Masalah daya beli ini salah satunya ditunjukkan dengan data Indonesia mengalami deflasi selama dua bulan berturut-turut, yaitu sebesar -0,10% pada Juli dan sebesar -0,05% pada Agustus 2020. Meski secara keseluruhan BI memperkirakan inflasi 2020 dan 2021 akan terkendali dalam sasaran 3% plus minus 1%.

Pasar sangat berharap akan adanya kejutan dari BI karena ketika suku bunga (terutama kredit perbankan) murah, maka rumah tangga dan dunia usaha akan tertarik untuk mengakses kredit. 'Darah' dari perbankan ini menjadi bekal untuk melakukan ekspansi.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading