Saham Bank Diobral Asing, IHSG Sempat ke Zona Merah

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
17 September 2020 10:02
Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (17/9/20) sempat anjlok ke zona merah dengan penurunan 0,35% di level 5.040,80 sebelum kembali merangkak naik ke zona hijau naik 0,09% di kevek 5.062,43 jelang rilis keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia mengenai suku bunga acuan BI.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 125 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 1,9 triliun.

Saham yang paling banyak dilego asing hari ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan jual bersih sebesar Rp 25 miliar dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 40 miliar.


Sementara itu saham yang paling banyak dikoleksi asing hari ini adalah PT Astra Internasional Tbk (ASII) dengan beli bersih sebesar Rp 10 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net buy sebesar Rp 8 miliar.

Beralih ke dalam negeri, sentimen penggerak pasar hari ini datang dari kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral nasional. Konsensus yang dihimpun oleh CNBC Indonesia memperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga acuannya di angka 4% untuk bulan ini.

BI memandang cara memulihkan perekonomian adalah melalui jalur pelonggaran kuantitaif (QE). Hal ini diungkapkan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo. Dengan QE, BI menyuntikkan likuiditas ke pasar melalui penurunan Giro Wajib Minimun (GWM) maupun ekspansi moneter.

Hingga 14 Agustus, BI telah memberikan QE sebesar Rp 651,54 triliun. "Dalam kondisi seperti ini, pemulihan ekonomi lebih efektif lewat jalur kuantitas, dari aspek likuiditas dan pendanaan. Jalur QE ini yang masih tertahan di perbankan," kata Perry dalam konferensi pers usai RDG Agustus.

Dengan menahan suku bunga acuan ini, investasi di aset-aset keuangan dalam negeri masih terbilang menarik karena selisih (spread) dari yield obligasi dengan negara maju seperti AS yang masih tinggi serta real rates yang masih di teritori positif, sehingga diharapkan ada aliran masuk (inflow) dan bisa mendongkrak rupiah yang sudah tertekan.

Selanjutnya bursa di kawasan Asia terpantau merah, Nikkei di Jepang terdepresiasi 0,74%,Hang Seng Index di Hong Kong turun 1,47%, sedangkan Indeks STI di Singapura naik 0,10%.

Beralih ke bursa New York, sebagai kiblat pasar modal global. Tiga indeks utama Wall Street dibuka di zona hijau. Namun apresiasi tersebut gagal bertahan hingga akhir perdagangan. Tiga indeks utama saham AS ditutup variatif

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,4%. Pada saat yang sama dua indeks lainnya yaitu S&P 500 dan Nasdaq Composite juga ditutup turun dengan koreksi masing-masing sebesar 0,1% dan 0,8%.

Dini hari tadi bank sentral paling berpengaruh di dunia yaitu Federal Reserves (the Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya mendekati nol persen.

"Kami berharap dapat mempertahankan sikap akomodatif kebijakan moneter sampai hasil ini, termasuk lapangan kerja maksimum, tercapai." kata Powell, mengutip CNBC International.

Bank sentral yang dipimpin oleh Jerome Powell bahkan akan menahan suku bunga rendah untuk waktu yang lama.Para anggota komite pengambil kebijakan the Fed (FOMC) bahkan mengantisipasi suku bunga overnight akan ditahan di kisaran nol persen untuk waktu yang lama setidaknya sampai 2023.

"Dengan inflasi yang terus berjalan di bawah target jangka panjang ini, Komite akan bertujuan untuk mencapai inflasi secara moderat di atas 2 persen untuk beberapa waktu sehingga inflasi rata-rata 2 persen dari waktu ke waktu," kata FOMC dalam sebuah pernyataan, mengutip CNBC International.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading