Sri Mulyani: Pemulihan Ekonomi RI Masih Terlalu Dini, Rentan!

Market - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
17 September 2020 07:50
Menteri Keuangan Sri Mulyani di Komisi XI DPR RI. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani di Komisi XI DPR RI. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemulihan ekonomi Indonesia saat ini masih terlalu dini dan rentan. Sebab, belum semua sektor penopang perekonomian mampu bangkit di tengah pandemi Covid-19 yang belum musnah.

Menurutnya, saat ini sektor usaha mulai kembali tumbuh dibandingkan pada awal masuknya Covid-19 ke Indonesia yakni Maret-Mei lalu. Meski demikian, masih rapuh dan rentan karena Covid-19 yang masih terus menyebar.

"Ini masih sangat dini dan terlalu rentan bagi kita melihat pemulihan ekonomi," ujarnya dalam webinar virtual Lembaga Penjamin Simpanan, Rabu (16/9/2020).


Lanjutnya, meskipun saat ini ada harapan dan angin positif dengan adanya vaksin, tapi itu tidak cukup untuk memulihkan ekonomi secara cepat. Sebab, setelah adanya vaksin masih dibutuhkan waktu untuk penyembuhan.

"Karena Covid masih di sini bersama kita meskipun banyak harapan dan diskusi mengenai vaksin, tapi ini membutuhkan waktu lebih lama," jelasnya.

Ia melihat, selama Covid-19 masih ada di dunia ini maka akan terus memberikan ketidakpastian, tidak hanya untuk Indonesia tapi seluruh negara di dunia. Apalagi pada kuartal II-2020 perekonomian Indonesia terkontraksi sangat dalam hingga minus 5,32%.

Namun, ia menekankan bahwa kontraksi perekonomian Indonesia masih lebih kecil dibandingkan dengan negara lainnya seperti Singapura dan Malaysia yang terkontraksi hingga double digit.

"Indonesia masih dealing dengan ketidakpastian ini, meskipun jika dibandingkan negara-negara lain kontraksi ekonomi kita di kuartal II 5,3% lebih mild [ringan] dari negara lain yang kontraksinya lebih dalam," tuturnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32% year on year (yoy). Angka ini memburuk dari Q1-2020 yang tumbuh mencapai 2,97% dan Q2-2019 yang naik mencapai 5,05%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading