Ada The Fed Kamis Dini Hari, Dolar Galau & Rupiah Juga Loyo

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 September 2020 13:02
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berayun antara penguatan dan pelemahan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (16/9/2020). Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang akan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis dini hari nanti menjadi fokus utama pelaku pasar.

Melansir data Refinitiv, rupiah sebenarnya membuka perdagangan dengan cukup meyakinkan, menguat 0,37% ke Rp 14.780/US$. Tetapi setelahnya, penguatan perlahan terpangkas hingga akhirnya melemah 0,07% di Rp 14.845/US$.

Setelahnya rupiah berfluktuasi antara penguatan dan pelemahan, pada pukul 12:00 WIB berada di Rp 14.830/US$, menguat tipis 0,03%. 


Membaiknya sentimen pelaku pasar merespon perkembangan vaksin virus corona, membuat rupiah langsung menguat di awal perdagangan.

AstraZaneca dan Universitas Oxford melanjutkan tahap uji coba vaksin setelah pekan lalu sempat terhenti.

Sementara Pfizer dan BioNTech berencana memperluas uji coba tahap III dengan menggandeng 44.000 orang relawan. "Keberagaman dalam uji coba klinis adalah prioritas Pfizer. Apalagi dampak pandemi virus corona berbeda- beda untuk setiap komunitas di AS," kata John Young, Chief Business Officer Pfizer, seperti dikutip oleh Reuters.

Saat sentimen sedang membaik, maka investor akan mengalirkan modalnya ke negara emerging market, dan rupiah pun mendapat rejeki.

Sementara itu, dolar AS sedang "galau" antara menguat atau melemah, akibatnya rupiah pun loyo. Dolar AS menanti pengumuman kebijakan moneter The Fed. Sebab The Fed diramal akan bersikap dovish alias memberikan sinyal akan mempertahankan suku bunga rendah dalam waktu yang lama.

Bos The Fed, Jerome Powell, pada Kamis (27/8/2020) malam mengubah pendekatannya terhadap target inflasi. Sebelumnya The Fed menetapkan target inflasi sebesar 2%, ketika sudah mendekatinya maka bank sentral paling powerful di dunia ini akan menormalisasi suku bunganya, alias mulai menaikkan suku bunga.

Kini The Fed menerapkan "target inflasi rata-rata" yang artinya The Fed akan membiarkan inflasi naik lebih tinggi di atas 2% "secara moderat" dalam "beberapa waktu", selama rata-ratanya masih 2%.

Dengan "target inflasi rata-rata" Powell mengatakan suku bunga rendah bisa ditahan lebih lama lagi. Suku bunga rendah yang ditahan dalam waktu yang lama tentunya berdampak negatif bagi dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading