Harga Batu Bara Acuan September Drop, di Bawah US$ 50/Ton

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
15 September 2020 11:17
An undated handout photo of Whitehaven Coal's Maules Creek coal mine in New South Wales, Australia.   Whitehaven Coal Ltd/Handout via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVES

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang ramai diperjualbelikan mulai menunjukkan tanda berbalik arah dari tren kenaikannya dalam sepekan lalu.

Pada hari pertama perdagangan minggu ini Senin (14/9/2020), harga batu bara ditutup dengan koreksi 0,65% ke US$ 53,8 per ton usai meroket signifikan dengan kenaikan 7,44% minggu lalu.


Melesatnya harga batu bara belakangan lebih dipicu oleh faktor rebound teknikal. Sementara dari sisi fundamental, permintaan terhadap batu legam ini masih loyo. China dan India sebagai konsumen batu bara terbesar dunia yang mulai beralih ke pasokan domestik juga semakin memberikan tekanan pada harga.

Mengutip data Refinitiv, impor batu bara China pada Januari-Agustus 2020 adalah 183,2 juta ton. Turun 4,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian impor batu bara India selama delapan bulan pertama 2020 adalah 113,48 juta ton. Anjlok 18,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sedangkan impor batu bara Korea Selatan dalam periode Januari-Agustus 2020 adalah 71,01 juta ton. Ambles 21% ketimbang periode yang sama pada 2019. 

Lemahnya permintaan batu bara yang berujung pada penurunan harga tentu menekan kinerja keuangan para penambang dan eksportir, tak terkecuali Indonesia. Harga yang anjlok membuat penambang susah untuk mencapai titik impas (breakeven).

"Industri batu bara Indonesia berada dalam masalah secara struktural dan finansial setelah sejumlah perusahaan kesulitan mencapai break-even," kata kata Analis Keuangan IEEFA, Ghee Peh, yang juga penulis laporan 'No Bailout, Don Don't Throw Good Money after Bad' IEEFA, dikutip CNBC Indonesia, Senin (14/9/2020).

Apalagi para produsen batu bara tersebut kebanyak juga memiliki utang yang menumpuk. Dalam kajiannya, IEEFA menemukan perusahaan batu bara Indonesia besar memiliki pinjaman sebesar US$ 3,8 miliar atau setara dengan Rp 56 triliun kepada bank asing dan domestik sementara obligasi sektor batu bara yang saat ini sebesar US$ 3,1 miliar [Rp 46 triliun].

Di sisi lain, harga batu bara acuan (HBA) bulan September juga masih menunjukkan adanya penurunan. HBA September dipatok di US$ 49,42/ton. HBA bulan ini turun dari bulan sebelumnya yang masih berada di US$ 50,34/ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading