Saham Perbankan Tumbang (Lagi), Waktunya Serok?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
10 September 2020 14:52
Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor perbankan terpantau ambruk pada perdagangan hari ini setelah keputusan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk memberlakukan kembali PSBB Total.

Terpantau indeks sektor keuangan jatuh 5,74% bahkan indeks perbankan Infobank15 terjatuh lebih parah setelah ambles 5,93%. Hal ini dikarenakan banyak perbankan yang terkoreksi hingga menyentuh level Auto Reject Bawah alias ARB


Terpantau 5 dari 6 emiten perbankan besar dan likuid yang melantai di BEI sudah anjlok mendekati level ARB di agka 7%. Tercatat hanya satu emiten yang selamat dari ARB yakni saham dengan kapitalisasi pasar paling jumbo di BEI yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang meskipun selamat dari ARB akan tetapi terpaksa masih terkoreksi parah 4,40% ke level harga Rp 29.850/saham.

Sektor perbankan terdampak akibat PSBB Total sebab di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi corona tentunya tingkat hutang-hutang yang gagal bayar akan meningkat dan akan memperkeruh angka Non-Performing Loan (NPL).

Selain itu seperti kita ketahui mulai tahun 2020 ini perbankan juga diharuskan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menerapkan standar akuntansi baru PSAK 71.

Standar yang mengacu kepada International Financial Reporting Standard (IFRS) 9 ini menggantikan PSAK sebelumnya yakni PSAK 55.Dalam PSAK baru ini, poin utamanya ialah pencadangan atas penurunan nilai aset keuangan berupa piutang, pinjaman, atau kredit.

Dengan demikian, aturan akuntansi ini mengubah metode penghitungan dan penyediaan cadangan untuk kerugian akibat pinjaman yang tak tertagih.

Dengan aturan baru ini, emiten harus menyediakan cadangan kerugian atas penurunan nilai kredit (CKPN) bagi semua kategori pinjaman, baik yang kredit lancar (performing), ragu-ragu (underperforming), maupun macet (non-performing). Kondisi ini tentu dinilai akan memberikan pencadangan yang lebih besar dari sebelumnya.

Dengan diberlakukanya PSAK 71, aturan pencatatan baru ini akan sangat mempengaruhi laba bank, karena kategori pinjaman akan turun dan pencadangan akan naik. Dampak yang terjadi dari PSAK 71 akan semakin berlipat ganda bagi bank yang memiliki banyak kredit macet.

Selain itu pemberian kredit juga akan terganggu di tengah pandemi virus Covid-19 ini tentunya sektor perbankan harus lebih jeli mengenai pemberian kredit, jangan sampai karena gencar menggenjot kredit, NPL perbankan membengkak.

Jika saham sektor perbankan ambruk, hal ini memunculkan tanda tanya di benak para pelaku pasar. Apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk masuk ke pasar dengan membeli saham perbankan yang sedang 'diskon' atau lebih baik investor wait and see terlebih dahulu menunggu kondisi pasar yang lebih tenang.

Well, jawabanya dari pertanyaan apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk menyerok saham perbankan  adalah tergantung. Time horizon investor akan sangat mempengaruhi jawaban dari pertanyaan ini.

Semisal jika investor ingin menyimpan saham tersebut dalam jangka panjang sepertinya saat ini menjadi saat yang tepat untuk masuk menyicil pembelian saham perbankan seperti yang ditunjukkan oleh tabel berikut.

Dapat dilihat valuasi saham-saham perbankan saat ini sudah tergolong murah. Apabila menggunakan metode valuasi Price Earning Ratio (PER) maka saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) merupakan saham perbankan dengan valuasi diskon karena PERnya berada di angka 5,29 kali. Rule of Thumb PER bisa dikatakan murah apabila berada di bawah angka 10 kali.

Apabila menggunakan metode valuasi Price to Book Value (PBV) yang membandingkan nilai buku perusahaan dengan nilai pasarnya maka lagi-lagi BNGA merupakan saham perbankan dengan valuasi termurah yakni di angka 0,47 kali. Rule of Thumb untuk PBV bisa dikatakan murah apabila berada di bawah angka 1 kali.

Sedangkan untuk saham perbankan yang masih terkoreksi paling parah secara tahun berjalan jatuh kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang masih terkoreksi 40,38% secara YTD. Hal ini menunjukkan potensi untung di BBNI cukup besar apabila BBNI sudah berhasil pulih melawan virus corona.

Secara valuasi baik menggunakan metode PER maupun PBV juga BBNI masih tergolong murah dengna PER sebesar 9,79 kali dan PBV sebesar 0,79 kali.

Akan tetapi apabila para pelaku pasar hanya ingin bertransaksi di saham perbankan dalam jangka pendek yakni hanya trading atau scalping saja maka sepertinya sektor perbankan menjadi sektor yang kurang cocok untuk bertransaksi.

Saham BankFoto: Tri Putra/CNBC Indonesia
Saham Bank

Dapat dilihat secara teknikal pergerakan Indeks Infobank15 dengan menggunakan periode harian (daily) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support). Saat ini, Infobank15 berada di area batas bawah dengan BB yang cenderung melebar maka pergerakan Infobank15 selanjutnya cenderung terkoreksi.

Indikator Relative Strength Index (RSI) sebagai indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu dan berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Saat ini RSI berada di area 35, yang menunjukkan belum adanya indikator jenuh beli akan tetapi pergerakan RSI terkonsolidasi turun sehingga biasanya menandakan pergerakan Infobank15 selanjutnya akan cenderung terdepresiasi.

Sementara itu, indikator Moving Average Convergen Divergen (MACD) yang menggunakan pergerakan rata-rata untuk menentukan momentum, dengan indikator MACD di wilayah negatif, maka kecenderungan pergerakan Infobank15 untuk terdepresiasi.

Indikator Moving Average (MA) jangka pendek sudah berpotongan turun dengan MA jangka panjangnya sehingga sudah crossing yang mengindikasikan akan adanya koreksi.

Secara keseluruhan,pergerakan indeks Infobank15 selanjutnya cenderung bearish atau terkoreksi yang terkonfirmasi dengan munculnya indikator MACD yang berada di zona negatif dan indikator Moving Average (MA) yang sudah crossing sehingga saham-saham di sektor perbankan tidak cocok untuk di-trading­-kan dalam jangka pendek dan menengah.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Obral-obral, Deretan Saham LQ45 Ini Sudah Rebound Lagi Lho!


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading