Pengumuman! Minyak Ambrol 5% Lebih, di Bawah US$ 40/barel

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
09 September 2020 08:32
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah ambrol di bulan September ini setelah rebound di bulan Mei dan mulai naik tipis-tipis sejak Juli. Kedua kontrak acuan minyak mentah yang aktif diperdagangkan kini harganya sudah di bawah US$ 40/barel.

Semalam harga minyak anjlok lebih dari 5%. Brent sebagai acuan internasional turun tajam dengan koreksi 5,3% dari posisi perdagangan sehari sebelumnya. Di saat yang sama harga minyak acuan AS yaitu West Texas Intermediate (WTI) juga terjun bebas dengan anjlok 7,6%.

Hari ini, Rabu (9/9/2020), harga minyak berjangka masih melanjutkan koreksinya. Pada 08.00 WIB, harga minyak Brent turun 0,15% ke US$ 39,72/barel dan WTI terpangkas 0,27% ke US$ 36,66/barel.


Harga emas hitam anjlok sejak Senin ini dipicu oleh keputusan perusahaan pelat merah Arab Saudi yaitu Aramco yang mendiskon harga minyaknya, terutama untuk jenis Arab Lights.

Aramco memotong harga minyak Arab Lights sebesar US$ 1,4/barel dari bulan sebelumnya. Penurunan harga ini membuat minyak Arab Lights 50 sen lebih murah dibandingkan dengan patokan Oman-Dubai.

Aramco juga menurunkan harga minyak Arab Extra Light dan Super Lightnya menjadi lebih murah US$ 1,5/barel dari bulan sebelumnya. Langkah ini juga membuat harga minyak mentah tersebut masing-masing lebih murah 80 sen dan lebih mahal 55 sen dari patokan Oman-Dubai.

Argus melaporkan, Aramco melakukan pengurangan yang lebih kecil untuk minyak mentahnya yang lebih berat yang dijual kepada pelanggannya di kawasan Asia-Pasifik.

Harga minyak Arab Medium dan Arab Heavy Oktober masing-masing diturunkan sebesar US$ 1,20/barel dan 90 sen/barel. Penurunan harga kedua jenis minyak ini membuat harga minyak Arab lebih miring 30 sen dibanding acuan Oman-Dubai.

Pemotongan harga sebagian besar sudah sesuai ekspektasi pasar. Para importir di kawasan Asia-Pasifik umumnya mengantisipasi Aramco untuk menurunkan harga sekitar 60 ¢ - $ 1,20/barel karena lemahnya permintaan akibat penurunan margin penyulingan dan adanya ancaman gelombang kedua infeksi Covid-19.

"Penurunan harga minyak oleh Saudi pada Minggu membuat WTI menjadi kurang menarik untuk para pembeli di Asia" kata analis dari PK Verleger LLC, Phil Verleger kepada Reuters.

Pelemahan permintaan jadi kekhawatiran utama yang merebak di pasar belakangan ini dan membuat harga minyak tertekan hebat. 

Akhir pekan Hari Buruh menandai akhir musim mengemudi musim panas AS ketika permintaan bensin biasanya berada pada puncaknya, hal ini menambah masalah dari sisi pasokan dan permintaan di pasar, menurut Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho, mengutip Reuters.

"Dengan penurunan aktivitas penyulingan dalam beberapa minggu mendatang saat musim balik dimulai, penyimpanan minyak mentah akan naik bahkan lebih tinggi dari level tertingginya dalam sejarah," kata Yawger.

Spekulasi terhadap harga minyak di pasar juga semakin memperburuk kondisi. "Komunitas spekulatif kembali mundur dan mentalitas kelompok telah menghancurkan harga minyak," kata Yawger.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Fluktuasi Harga Minyak Diproyeksi Masih Terjadi, Ini Sebabnya


(twg/twg)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading