Harga Minyak 3 Hari Melorot, Ini Tanda-tanda Apa?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
04 September 2020 09:38
FILE PHOTO: Saudi Aramco's Ras Tanura oil refinery and oil terminal in Saudi Arabia, May 21, 2018. REUTERS/Ahmed Jadallah/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran dari sisi permintaan masih membayangi pasar minyak mentah. Hari ini Jumat (4/9/2020) pada perdagangan pagi waktu Asia, harga emas hitam melorot.

Harga minyak mentah untuk kontrak yang aktif ditransaksikan terkoreksi lebih dari 0,5%. Dengan begitu, harga minyak telah melemah dalam tiga hari perdagangan terakhir.

Pada 08.35, harga minyak berjangka acuan internasional Brent turun 0,57% ke US$ 43,82/barel. Brent gagal bertahan di level tertingginya di US$ 45/barel yang berhasil dicapai sejak awal Agustus.


Sementara itu di saat yang sama, harga minyak berjangka acuan Negeri Paman Sam yakni West Texas Intermediate (WTI) melorot lebih dalam hingga 0,67% ke level US$ 41,11/barel.

Mengacu pada data Energy Information Agency (EIA), stok minyak mentah AS pekan lalu turun 9,36 juta barel menjadi 498,4 juta barel. Stok minyak mentah turun jauh lebih dalam dari pekan sebelumnya yang hanya 4,69 juta barel dan lebih dalam dari perkiraan analis di angka 1,89 juta barel.

Namun untuk stok bensin hanya turun 4,32 juta barel pekan lalu. Padahal di pekan sebelumnya stok bensin turun 4,58 juta barel. Reuters melaporkan permintaan terhadap bensin pekan lalu sebanyak 8,78 juta barel per hari (bpd), turun dari 9,16 juta bpd pekan sebelumnya.

Reuters melaporkan, volume minyak mentah yang tiba di China sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, akan melambat pada September setelah naik selama lima bulan berturut-turut karena aktivitas kilang secara bertahap akan menggunakan persediaan yang membengkak.

Konsensus yang dihimpun oleh Reuters menyebutkan permintaan minyak global bakal turun tajam tahun ini di kisaran 8-10 juta barel per hari (bpd). Sementara itu, laporan bulanan organisasi negara-negara eksportir minyak (OPEC) Agustus lalu memperkirakan permintaan minyak global anjlok 9,1 juta bpd menjadi 90,6 juta bpd.

Anjloknya permintaan ini membuat para analis memandang bahwa harga minyak mentah akan susah beranjak dari level US$ 40/barel meski pemangkasan output sudah dilakukan oleh OPEC dan koleganya (OPEC+).

Survei yang dilakukan terhadap 43 ekonom oleh Reuters memprediksi rata-rata harga minyak mentah acuan global Brent akan berada di US$ 42,75/barel tahun ini dan untuk outlook minyak mentah acuan AS yakni West Texas Intermediate (WTI) US$ 38,83/barel.

Baik ekonom yang disurvei Reuters maupun laporan OPEC sama-sama memperkirakan pasar minyak baru bisa rebound tahun depan seiring dengan membaiknya prospek perekonomian global.

OPEC memperkirakan demand untuk minyak akan bertambah 7 juta bpd menjadi 97,6 juta bpd tahun depan. Survei Reuters juga memperkirakan rata-rata harga minyak Brent akan berada di US$ 50,45 pada 2021.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading