Baru Melesat Tinggi, Harga Batu Bara Kayaknya Mau Ambrol Lagi

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
02 September 2020 09:42
A pile of coal is seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Belakangan ini harga batu bara termal Newcastle melesat signifikan. Namun pada perdagangan kemarin, harga komoditas unggulan Indonesia dan Australia ini kembali mengalami koreksi.

Selasa (1/9/2020), harga batu bara Newcastle untuk kontrak yang aktif ditransaksikan tergelincir ke US$ 52,6/ton dari sebelumnya di harga US$ 52,75/ton. Harga batu bara turun 15 sen atau 0,28%. 


Kenaikan harga batu bara yang terjadi akhir-akhir ini pada dasarnya belum mencerminkan fundamental pasar batu bara. Lonjakan harga masih mencerminkan faktor teknikal di pasar berjangka (futures).

Bagaimanapun juga permintaan terhadap batu bara dari negara-negara konsumennya terutama di Asia masih lemah. Tengok saja impor batu bara India sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data pelacakan kapal Refinitiv, impor batu bara termal maupun kokas India pada bulan lalu tercatat mencapai 12,2 juta ton. Hingga akhir Agustus impor batu bara India diperkirakan mencapai 12,7 juta ton untuk angka maksimalnya.

Penurunan volume impor India ini tak terlepas dari penerapan lockdown nasional yang ditempuh oleh negara tersebut pada Maret lalu untuk mengendalikan penyebaran virus corona di negara terpadat kedua di dunia sekaligus importir kedua terbesar setelah China.

Volume impor batu bara India di bulan Juli juga berada di angka 12 juta ton yang artinya tidak terlalu berbeda dengan volume impor Agustus. Impor batu bara India tercatat paling parah di bulan Juni dengan total impor hanya 8,8 juta ton saja.

Meski ada perbaikan di bulan Juli, tetapi impornya masih turun 17% (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Impor batu bara Agustus pun anjlok 24% (yoy) di bawah 16 juta ton tahun lalu, melansir Reuters.

Untuk delapan bulan pertama tahun ini, impor batu bara India tercatat mencapai 113,96 juta ton atau 18,9% lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Hal ini jelas berdampak signifikan terhadap para pemasok batu bara impor India yakni Indonesia dan Australia.

Reuters melaporkan impor India dari RI yang memasok batu bara termal untuk pembangkit listrik turun 23% (yoy) menjadi 46,4 juta ton pada delapan bulan terakhir. Volume tersebut turun dari 60,25 juta ton yang tercatat pada periode Januari-Agustus tahun lalu. 

Beralih ke Negeri Kanguru, pengiriman batu bara kokas yang banyak digunakan untuk pembuatan baja dari Australia ke India juga drop 23% (yoy) menjadi 23,4 juta ton. Angka ini juga turun dari 30,5 juta ton pada periode yang sama tahun 2019.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading