Bukan Prank! Cuan 5 Saham Ini Lebih Gede dari Emas 5 Tahun

Market - Putu Agus Pransuamitra & tahir saleh, CNBC Indonesia
01 September 2020 07:15
Suasana pasar pusat perhiasan Cikini, Jakarta Pusat

Jakarta, CNBC Indonesia - Investasi emas dan saham memang tak bisa diperbandingkan secara pas mengingat kedua instrumen investasi ini memiliki karakter yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula.

Emas, biasanya diburu saat kondisi ekonomi tengah suram sehingga menjadi aset aman alias safe haven. Karakter investornya pun jangka panjang dengan tipikal investor tradisional, menghindari risiko tinggi.

Sementara investasi saham biasanya diperuntukkan bagi investor-investor yang berani mengambil risiko, term jangka pendek (trading) kendati ada pula dengan horizon investasi jangka panjang. Tipikal investornya pun lebih agresif dan moderat sehingga investornya berbeda 'mazhab' dengan investor emas.


Namun bolehlah kita coba membandingkan pergerakan harga emas, khususnya emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk. atau yang dikenal dengan emas Antam.

Harga emas dalam 5 tahun lalu sebetulnya tidak semenarik di tahun ini yang terus melesat naik hingga memecahkan rekor termahal sepanjang sejarah.

Pada tahun 2015, harga emas Antam berada di bawah Rp 600.000/batang untuk berat 1 gram. Sepanjang tahun, harga emas Antam bergerak mendatar, rata-rata bergerak di kisaran Rp 560.000/gram sampai Rp 570.000/gram, dengan level terendah Rp 545.000/batang dan tertinggi Rp 606.000/batang.

Pergerakan tersebut tentunya membuat emas terlihat kurang menarik dijadikan investasi saat itu. Apalagi jika melihat lebih ke belakang, harga emas Antam masih belum mampu melewati rekor termahal sepanjang sejarah Rp 614.200/gram yang dicapai pada 5 Oktober 2012.

Tetapi, jika melihat harga emas sekarang, investor yang membeli emas saat pergerakannya sedang tidak menarik tersebut pasti sudah senyum-senyum.

Pada 31 Agustus 2015, harga emas Antam dibanderol Rp 577.000/gram, sementara pada 31 Agustus 2020, Rp 1.030.000/gram, artinya sudah melesat 78,51% dalam tempo 5 tahun. Kenaikan terbesar terjadi di tahun ini, 33,51% secara year-to-date (YTD).

Cuan yang besar tentunya untuk aset yang tidak memiliki imbal hasil, alias keuntungan hanya dari selisih harga beli dan jual.

Rekor termahal sepanjang sejarah emas Antam dicapai pada 7 Agustus lalu, Rp 1.065.000/batang pada 7 Agustus lalu, dan tidak menutup kemungkinan akan pecah lagi. Sebabnya, banyak yang memprediksi harga emas dunia akan kembali memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa.

Harga emas Antam cenderung mengikuti pergerakan emas dunia, meski ada faktor lain yang juga berpengaruh seperti kurs rupiah dan supply-demand.

Harga emas dunia menyentuh rekor termahal sepanjang sejarah Rp2.072,49/troy ons juga pada 7 Agustus lalu, dan diprediksi bisa naik lagi ke US$ 3.000/troy ons, kemudian ke US$ 4.000/troy ons, bahkan ekstrim ke US$ 10.000/troy ons dalam jangka panjang oleh para analis dunia.

Jika prediksi tersebut benar, tentunya kenaikan harga emas Antam kemungkinan belum akan terhenti.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin kemarin (31/8/20) ditutup anjlok 2,02% di level 5.238,48. Aksi ambil untung tampaknya sedang melanda bursa saham Asia, termasuk Indonesia, setelah reli panjang.

Secara tahun berjalan IHSG minus 16,84%, dalam 3 tahun terakhir juga turun 8,14%. dan dalam 5 tahun terakhir indeks acuan utama di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini minus 3,18%.

Data perdagangan mencatat, ada setidaknya 5 saham dengan penguatan signifikan dalam 5 tahun terakhir.

5 Saham Top Gaines 5 Tahun Terakhir, 31 Agustus 2020

1. PT Barito Pacific Tbk (BRPT), saham melesat 3.069% di level Rp 840/saham;

2. PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP), saham melesat 820,79% di level Rp 9.300/saham;

3. PT Indika Energy Tbk (INDY), saham terbang 162,82% di level Rp 1.025/saham;

4. PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), saham naik 161,68% di posisi Rp 280/saham;

5. PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO), saham naik 154,64% di posisi Rp 380/saham.

Perlu dicatat, penguatan harga saham yang dicatat oleh BEI ini, sudah memperhitungkan aksi korporasi stock split atau pemecahan nilai nominal saham.

Misalnya saham Barito Pacific, induk usaha PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Pada 12 Juli 2017, Barito mendapat persetujuan dari BEI untuk pemecahan nilai nominal saham dari Rp 1.000/saham menjadi Rp 500/saham di mana jumlah saham BRPT dari 6.979.892.784 saham menjadi 13.959.785.568 saham.

Dengan rasio satu banding dua (1:2), nilai wajar saham Barito sebelum stock split mencapai Rp 6.000/saham, sedangkan setelah stock split menjadi Rp 3.000/saham.

Lalu pada 19 Juli 2019, perseroan juga mendapat restu stock split saham perseroan dengan rasio 1:5. Maka nilai nominal saham BRPT menjadi Rp 100 per saham dari Rp 500 per saham sebelumnya. Dengan rasio harga tersebut, harga saham BRPT saat itu menjadi Rp750 per saham dari sebelumnya Rp 3.750/saham.

Dalam 3 tahun terakhir, saham BRPT naik 158,46% dan 5 tahun terakhir meroket 3.069% atau 31 kali lipat (dengan memperhitungkan harga sebelum pemecahan). 

Sementara INKP, INDY, DOID, dan AGRO belum melakukan stock split. Dengan demikian kenaikan harga tersebut cukup memberikan gain menarik bagi investor yang tetap memegang saham-saham tersebut.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading