Harga Logam Mulia Ambles Terus, Benarkah Kejayaan Emas Pudar?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 August 2020 10:27
Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas di pasar spot dunia tampaknya mulai menunjukkan mulai jenuh menguat, setelah dalam 9 pekan dalam tren naik dan sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa.

Tanda-tanda pemulihan ekonomi tampaknya menjadi pematah semangat investor memburu logam mulia ini dalam beberapa hari ini.

Pekan pertama Agustus,harga emas mencapai rekor tertinggi pada level US$ 2.072,27/troy ons, tepatnya pada 7 Agustus 2020. Namun harga emas berangsur turun hingga hari ini, Selasa (25/8).


Secara akumulatif harga emas dunia sudah drop 6,76% ke level harga US$ 1.933,6/oz. Untuk saat ini harga emas masih belum mampu untuk menuju ke arah level tertingginya lagi.

Sementara itu, harga emas Antam setali tiga uang nasibnya dengan emas dunia. Sempat menyentuh rekor tertinggi di harga Rp 1.065.000/gram pada 7 Agustus 2020, tapi hari ini jika dihitung dari harga tertinggi sudah jatuh 4,13% ke harga Rp 1.021.000/gram.

Dalam 2 hari setelah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa, harga emas dunia langsung ambrol 5,72%. Kemudian emas mencatat penguatan dalam 4 dari 5 perdagangan setelahnya hingga kembali ke atas US$ 2.000/troy ons, tetapi ambrol lagi 4% pada Rabu (19/8/2020) lalu.

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, emas berada di level US$ 1.939,4/troy ons.

Pergerakan tersebut menunjukkan emas masih kesulitan untuk bertahan di atas US$ 2.000/troy ons, apalagi untuk kembali melaju kencang. Melansir Kitco, beberapa analis menyebut emas kini masuk fase konsolidasi.

Namun, analis-analis tersebut juga melihat fase konsolidasi ini merupakan koreksi sehat emas setelah terbang tinggi di tahun ini, dan bagus untuk outlook penguatan emas jangka panjang.

Fase konsolidasi artinya emas akan bergerak naik turun dalam rentang harga tertentu dalam beberapa waktu lamanya. Pada satu titik, fase konsolidasi dapat memicu pergerakan besar jika menembus batas atas atau bawah fase konsolidasi.

Untuk saat ini, batas fase konsolidasi masih belum terlihat jelas, tetapi ada kemungkinan batas bawah berada di kisaran US$ 1.860/troy ons dan batas atas di US$ 2.000/troy ons.

Ole Hansen, kepala strategi komoditas Saxo Bank mengatakan dolar AS yang perlahan kembali menguat akan menjadi faktor penekan harga emas yang signifikan dalam jangka pendek.

"Kami melihat posisi jual (short) dolar AS ada di level ekstrim dan posisi tersebut saat ini mulai menurun. Hal itu membuat posisi bullish emas juga akan menurun dalam jangka pendek," kata Hansen sebagaimana dilansir Kitco, Minggu (23/8/2020).

Koreksi emas yang cukup dalam bisa terjadi jika batas bawah fase konsolidasi berhasil dilewati. Analis dari TD Securities, Daniel Ghali, melihat koreksi harga emas akan mencapai 17% atau sekitar US$ 300, melihat momentum penguatan emas mulai memudar.

Meski demikian, Ghali menyatakan saat koreksi selesai, maka harga emas akan kembali melesat.

Harga emas pertama kali mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, terjadi pada September 2011 di harga US$ 1.920.3/troy ons.

Saat itu, kondisi perekonomian AS serta kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menjadi "aktor" utama dibalik pergerakan emas ke rekor tertinggi sepanjang masa, dan juga yang akan memicu kemerosotan, baik itu dulu maupun sekarang.

Di tahun 2008, Amerika Serikat mengalami resesi, yang memicu krisis finansial global. Guna membangkitkan perekonomian, The Fed memangkas suku bunga hingga 0,25%, dan menggelontorkan stimulus moneter dengan program pembelian aset (obligasi pemerintah dan surat berharga lainnya) atau yang dikenal dengan istilah quantitative easing (QE).

Emas Bisa ke Level US$ 4.000/Oz
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading