Duh! Harga Batu Bara Nyungsep, Senyungsep-nyungsepnya

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 August 2020 16:28
Tambang Kaltim Prima Coal

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melemah lagi di pekan ini, bahkan jika melihat perjalanannya sepanjang tahun ini bisa dikatakan nyungsep, senyungsep-nyungsepnya.

Melansir data Refinitiv, harga baru bara melemah 2,57% ke US$ 49,6/ton. Level tersebut merupakan yang terendah sejak April 2016. Untuk diketahui, pada 7 April 2016, harga batu bara menyentuh level US$ 48,5/ton, level tersebut merupakan yang terendah sejak data tercatat di Refinitiv sejak Desember 2008.

Itu artinya, batu bara berjarak sekitar 2% dari level terendah tersebut, dan sepanjang tahun sudah ambrol lebih dari 28%. Sehingga bisa dikatakan nyungsep, senyungsep-nyungsepnya. 


Pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) membuat konsumsi energi turun yang berdampak pada turunya serapan batubara untuk kebutuhan energy di tahun ini. Belum lagi ditambah dengan negara-negara maju yang mulai beralih ke energi bersih, yang artinya konsumsi batubara akan semakin menurun.

Sementara penurunan harga batu bara di pekan ini tak lepas dari fundamental pasar yang rapuh baik dari sisi permintaan maupun pasokan. Dari sisi demand, potensi penurunan permintaan batu bara impor lintas laut (seaborne) dari India membuat harga tertekan.

Argus Media melaporkan Perusahaan listrik BUMN asal India yakni NTPC dikabarkan tak akan mengimpor batu bara lagi selama tahun fiskal 2020-2021 yang berakhir pada 31 Maret.

Langkah tersebut mengikuti proyeksi konsumsi listrik yang lebih rendah akibat pandemi Covid-19.

"Dalam skenario ini, saya kira kami tidak akan mengeluarkan tender impor batu bara setidaknya pada tahun fiskal ini," kata seorang pejabat NTPC kepada Argus.

Selain itu kemungkinan pembatasan impor oleh India memang tak bisa terelakkan. Sebab, pemerintah setempat akan cenderung mendorong industri pertambangan batu bara domestik terlebih dahulu dalam rangka pemulihan ekonomi.

Di sisi lain China juga kemungkinan akan membatasi impor batu baranya mengingat mulai ada penurunan harga batu bara domestik. Sebagai dua negara konsumen batu bara terbesar di dunia, penurunan permintaan asal negara-negara ini jelas menjadi tekanan tersendiri untuk harga si batu hitam.

Permintaan batu bara memang sedang menurun, tingkat produksi di Indonesia juga mengalami penurunan. Sayang, penurunan produksi lebih sedikit dari permintaan sehingga terjadi surplus yang membuat harga batu bara terus tertekan.

Berdasarkan data kementerian ESDM, Indonesia memproduksi 324,4 juta ton batu bara atau rata-rata 46,3 juta ton/bulan selama Januari-Juli. Sementara dari sisi volume penjualan pada periode yang sama tercatat mencapai 286.1 juta ton atau 40,9 juta ton/bulan.

Dengan begitu, produksi batu bara Indonesia turun sekitar 4,2 juta ton/bulan dari Januari-Juli tahun lalu, tetapi penjualan turun sebesar 11,6 juta ton/bulan selama periode yang sama.


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading