Minyak WTI dan Brent Gak Kompak Pekan Ini, Kok Bisa?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 August 2020 09:10
[THUMB] Harga Minyak Drop

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia bervariasi di pekan ini, jenis West Texas Intermediate (WTI) berhasil membukukan penguatan, tetapi jenis Brent justru melemah. Pergerakan dua minyak mentah acuan yang tidak kompak seperti ini jarang terjadi.

Melansir data Refinitiv, minyak WTI berhasil membukukan penguatan 0,81% ke US$ 42,34/barel sementara jenis Brent melemah 0,99% ke US$ 44,35/barel.


Mengacu definisi Investopedia, WTI digunakan sebagai standar perdagangan minyak di AS. Sumber minyak WTI berasal dari ladang minyak utama AS di Texas, Louisiana dan Dakota Utara dengan pasar utama WTI di negara-negara benua Amerika. Sehingga kondisi supply-demand di Amerika menjadi salah satu penentu harga WTI.

Sementara di Eropa, Asia, dan dunia pada umumnya memakai patokan minyak Brent. Brent dihasilkan dari kilang minyak Brent di wilayah Laut Utara Eropa, di antara Pulau Shetland dan Norwegia. Supply-demand secara global menjadi berpengaruh terhadap minyak Brent, selain juga kebijakan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC). 

Penguatan harga minyak WTI terjadi setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah di AS turun 1,6 juta barel pada pekan lalu, sementara persediaan bensin turun 3,3 juta barel.

Meski demikian, minyak WTI sebenarnya juga tertekan di perdagangan Jumat, setelah perusahaan Baker Hughes melaporkan jumlah rig yang aktif mengebor minyak bertambah sebanyak 11 menjadi 183 di pekan ini. Kenaikan tersebut merupakan yang terbanyak sejak bulan Januari. Bertambahnya jumlah rig yang aktif menjadi indikator awal jumlah produksi akan meningkat, jika tidak diimbangi dengan peningkatan demand, maka akan terjadi kelebihan pasokan (oversupply) yang menekan harga minyak mentah.

Merosotnya harga minyak jenis Brent menyusul laporan laporan Reuters bahwa OPEC, Rusia dan negara lainnya, yang dikenal dengan OPEC+ melihat masih terjadi oversupply minyak sebanyak 2,31 juta barel/hari. Padahal OPEC+ sudah memangkas produksi 7,7 juta barel/hari bulan mulai bulan ini.

Tahun ini, OPEC+ memperkirakan permintaan minyak turun 9,1 juta barel/hari, lebih banyak dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu 9 juta barel/hari. Bahkan jika pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) menggila di Eropa, Amerika Serikat (AS), India, dan China, maka permintaan bisa berkurang sampai 11,2 juta barel/hari pada 2020.

Selain itu, ternyata belum seluruh anggota OPEC+ mematuhi kesepakatan pengurangan produksi. Irak, Nigeria, dan Uni Emirat Arab masih memproduksi minyak 50.000 barel/hari lebih banyak dari kesepakatan. Sementara Rusia dan Kazakhstan kelebihan produksi masing-masing 280.000 barel/hari dan 190.000 barel/hari.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading