Singapura sampai Filipina Resesi, Kok Mata Uangnya Menguat?

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
19 August 2020 12:23
FILE PHOTO: A Singapore dollar note is seen in this illustration photo May 31, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) membuat sejumlah negara di Asia jatuh ke jurang resesi. Namun itu tidak otomatis membuat mata uangnya melemah.

Akibat wabah virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China tersebut, berbagai negara membatasi aktivitas warga. Kebijakan pembatasan sosial (social distancing) menjadi pilihan untuk mempersempit ruang gerak penyebaran virus.

Ketika masyarakat terpaksa menghabiskan sebagian besar waktu #dirumahaja, roda ekonomi seakan berhenti berputar. Ini terjadi di hampir seluruh negara, sehingga perekonomian dunia jatuh ke jurang resesi terdalam sejak Depresi Besar pada 1930-an.


Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan, perekonomian dunia pada 2020 bakal mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) -4,9%. Jauh lebih dalam ketimbang saat krisis keuangan global 2008-2009.

Benua Asia pun tidak luput dari tren kontraksi. Ketika kontraksi ekonomi terjadi dua kuartal beruntun, itu namanya resesi.

Sejauh ini negara Asia yang sudah jatuh ke jurang resesi adalah Hong Kong, Jepang, Thailand, Singapura, dan Filipina. Akan tetapi, nestapa ekonomi itu tidak membuat mata uang melemah. Sejak awal kuartal III-2020, dolar Hong Kong, yen Jepang, dolar Singapura, sampai peso Filipina masih mampu menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara Indonesia, yang belum resmi masuk resesi, justru mengalami depresiasi mata uang. Secara quarter-to-date (QtD), rupiah melemah lebih dari 4% di hadapan greenback.

Semua Kembali ke Corona
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading