Goks! Harga Perak Tembus Level Tertinggi 7 Tahun, Emas Lewat

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
17 August 2020 12:24
FILE PHOTO: An employee sorts gold bars in the Austrian Gold and Silver Separating Plant 'Oegussa' in Vienna, Austria, December 15, 2017.  REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak dunia ternyata terus mencatatkan reli panjang dalam beberapa pekan terakhir, dan menyentuh level tertinggi sejak 2013 atau 7 tahun terakhir.

CNBC merangkum beberapa sentimen yang mendorong mengapa investor berbondong-bondong ke mengoleksi logam mulia dan apa yang mendorong pergerakan drastis harganya.

Emas lazim menjadi tempat investasi aman dan favorit bagi investor, ketika pasar obligasi hanya menawarkan tingkat pengembalian atau yield yang flat dan justru negatif, sementara pasar saham juga masih bergejolak. Kondisi ini terjadi saat pandemi Covid-19 dan memicu harga emas dunia mencapai level tertingginya.


Tunggu dulu, tapi, perak ternyata dari sisi persentase kenaikan justru lebih tinggi dalam beberapa pekan terakhir ketimbang emas dunia.

"Sepertinya perak mengejar emas," kata Mobeen Tahir, Direktur Penelitian Asosiasi di Wisdom Tree, perusahaan penyedia produk yang diperdagangkan di bursa, dikutip CNBC Make It, Sabtu (15/8/2020).

Berdasarkan data perdagangan, harga spot perak, nilai real-time, mencapai US$ 29 per ounce pada dua pekan lalu, menurut data Reuters. Sejak itu, harganya turun sedikit tetapi masih berada di level tinggi hampir US$ 27 per ounce.

Level harga ini juga menjadi level tertinggi dalam 7 tahun terakhir dan kenaikan hampir 39% sejak pertengahan Juli ketika reli harga logam mulia juga mulai menguat.

Sementara itu, emas spot saat ini (Jumat pekan lalu) diperdagangkan sekitar US$ 1.947 per troy ounce dan naik hampir 8% sejak pertengahan Juli.

Harga perak, CNBC Make ItFoto: Harga perak, CNBC Make It
Harga perak, CNBC Make It

'Trifecta Sentimen' alias Tiga Sentimen

Pada dasarnya, kenaikan harga logam mulia ditopang oleh tiga faktor penguatan yang begitu kuat. "Ada trifecta pendorong yang kuat," kata Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, kepada CNBC melalui telepon.

Pertama, suntikan stimulus ke dalam perekonomian oleh bank sentral di seluruh dunia, sebagai bagian dari upaya membendung dampak krisis akibat pandemi virus corona.

Hansen mengatakan pelonggaran moneter ini telah menciptakan ketidakpastian lebih lanjut tentang kondisi sistem keuangan, di tengah kekhawatiran tentang adanya "peningkatan utang yang gunung dan perlu diatasi." Kondisi ini dinilai bisa berpotensi mengerek permintaan logam mulia sebagai aset investasi aman alias safe haven.

Hal ini juga mengakibatkan imbal hasil riil (real yield) obligasi atau surat utang sejumlah negara mengarah ke yield negatif, yang berarti tingkat pengembalian yang diperoleh investor atas obligasi tersebut sama dengan atau di bawah tingkat inflasi.

Real yield adalah yield dari obligasi setelah dikurangi inflasi, dan ini menjadi sentimen pendorong kedua.

Keadaan ini menunjukkan mulai sedikitnya "peluang" berinvestasi pada aset-aset yang tidak menawarkan tingkat pengembalian baik selain emas atau perak.

Ketiga, melemahnya dolar AS selama beberapa pekan terakhir terhadap mata uang utama lainnya. Kondisi ini juga telah mendorong harga logam mulia. Hal ini karena komoditas biasanya diperdagangkan dalam dolar AS, dan dolar yang lebih lemah seringkali diterjemahkan akanberimbas pada harga komoditas yang lebih tinggi.

Perak Seperti 'Roket Terpasang'

Hansen menganalogikan perak saat ini ibarat "emas tapi dengan roket yang terpasang," lantaran harganya cenderung reli "lebih tinggi dan lebih cepat" daripada emas yang harganya memang lebih mahal.

"Hal ini disebabkan likuiditas yang lebih rendah, meskipun hal ini juga dapat memicu penurunan tajam dan benar-benar membuat Anda tersingkir ... saat koreksi," katanya.

Misalnya, pada Maret lalu, ketika pasar ketiban "uang tunai" dari investor yang memburu likuiditas yang lebih besar di investasi berisiko, harga perak "benar-benar terpukul", dan ambles lebih dari 30% dan diperdagangkan di level sekitar US$ 12 per ounce.

Harga emas juga dihantam volatilitas tinggi, tetapi turun hanya 11% menjadi sekitar US$ 1.470 per ounce.

"Emas cenderung kurang stabil dibandingkan perak mengingat ukuran pasarnya yang superior," jelasnya, seraya menambahkan bahwa nilai pasokan tahunan emas diperkirakan lima kali lebih besar dari perak. Sedangkan perak cenderung menjadi produk sampingan dari penambangan logam lain, seperti tembaga.

"Atas dasar itu, reli yang kuat [atas harga perak] cenderung tidak mendorong pasokan bertambah, yang dapat menahan terjadinya reli harga, dibandingkan dengan operasi penambangan emas murni," tambah Hansen.

Tapi fakta bahwa harga perak memang masih setengah jalan menuju rekor tertinggi lebih dari US$ 48 per ounce yang pernah dicapai pada April 2011, sementara harga emas telah melampaui rekor sebelumnya.

Guy Foster, Kepala Penelitian di perusahaan pengelola dana Brewin Dolphin, mengatakan kepada CNBC dalam program "Squawk Box Europe" pekan lalu bahwa perusahaannya memiliki preferensi untuk membeli perak.

Rasio emas-perak, jumlah perak yang diperlukan untuk membeli satu ons emas, membuat "perak terlihat lebih murah atas dasar itu," kata mereka.

Foster mengatakan dengan adanya prospek pemulihan ekonomi global yang tinggi pascapandemi, Brewin Dolphin lebih optimis itu artinya akan menjadi sentimen tambahan bagi perak untuk naik.

Di sisi lain, Mobeen Tahir, Direktur Penelitian Asosiasi di Wisdom Tree, kembali menjelaskan bahwa lebih dari separuh permintaan perak berasal dari pemesanan dari industri di elektronik, peralatan medis, dan pembangkit tenaga surya.

Jadi, selain korelasinya dengan emas, perak memang dibuat untuk menjadikannya sebuah "kombinasi yang unik" bagi investor saat ini. Ibaratnya, perak bisa dijadikan semacam tempat berlindung dari semua risiko atas investasi.

"Jadi sekarang ini bukan hanya permainan taktis dengan perak, ini benar-benar permainan strategis di saat yang sama," tambah Tahir.

Bagaimana cara berinvestasi?

"Seperti halnya emas, investor dapat membeli perak dalam bentuk batangan fisik, tetapi ini juga membutuhkan cara untuk menjaganya agar logam perak ini tetap aman," kata Hansen.

Ada pula ETF (exchange traded fund) atau reksa dana yang bisa diperdagangkan di bursa (dengan aset dasar perak), bisa menjadi cara untuk mengakses investasi atas perah.

"ETF sejauh ini menjadi cara yang paling disukai untuk mengakses pasar [perak] sekarang," katanya. ETF tersebut diperdagangkan seperti saham secara real-time, artinya investor bisa memantau pergerakan harga perak yang menjadi aset dasar ETF tersebut.

Selain itu, investor yang lebih "spekulatif" juga bisa mendapatkan eksposur investasi perak melalui kontrak berjangka atau futures di bursa berjangka. Di Indonesia, sebagai informasi, bisa melalui Bursa Berjangka Jakarta dan Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (ICDX).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading