Perak Melesat 63% Kalahkan Emas, Bisa Jadi Investasi?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
11 August 2020 18:04
A customer puts gold bar on basket for sell to the gold shop in Bangkok, Thailand, Thursday, April 16, 2020. With gold prices rising to a seven-year high, many Thais have been flocking to gold shops to trade in their necklaces, bracelets, rings and gold bars for cash, eager to earn profits during an economic downturn.(AP Photo/Sakchai Lalit)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emas dunia boleh menjadi bintang aset investasi di tahun ini, sebab harganya yang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Tetapi kilau emas tersebut sebenarnya kalah jauh ketimbang logam mulia lainnya, perak. 

Pada Jumat (7/8/2020), emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons. Sejak akhir 2019 hingga mencapai rekor tersebut emas melesat 36,55%. Kenaikan yang membuat emas begitu berkilau di tahun ini. Tetapi, jika melihat kilau perak, emas mungkin jadi "malu".

Perak di tahun ini memang tak mencapai rekor termahal sepanjang sejarah, tetapi kenaikan harganya luar biasa, nyaris 2 kali lipat dari persentase kenaikan emas. Level tertinggi yang dicapai perak tahun ini US$ 29.83/ons pada Jumat lalu. Jika dilihat sejak akhir tahun lalu hingga ke level tersebut, perak melesat 67,3%. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari 2013, sementara rekor tertinggi sepanjang masa perak di US$ 49,51/ons yang dicapai pada 28 April 2011.


Sama dengan emas, perak juga merupakan logam mulia, meski perbedaan harganya sangat jauh. Sesama logam mulia, perak tentu bisa dijadikan sebagai investasi. Tetapi secara global porsi perak sebagai aset investasi masih kalah besar ketimbang fungsinya sebagai bahan baku industri.

Berdasarkan data Metal Focus, pada tahun 2019 lalu, demand perak secara global mencapai 991,8 juta ons, mengalami kenaikan 0,35% dibandingkan demand tahun 2018. Dari total tersebut sebanyak 510,9 juta ons perak atau sekitar 51% digunakan untuk keperluan industri.

Perak memang digunakan di banyak industri, peralatan rumah tangga, komputer, handphone, hingga industri otomotif menggunakan perak sebagai bahan baku. Sehingga permintaan untuk industri menjadi yang paling besar.

Sementara untuk keperluan investasi sebanyak 186,1 juta ons atau sekitar 18,8% dari total deman di 2019.

Permintaan perak sebagai investasi berada di urutan ketiga di bawah permintaan dari industri di posisi paling puncak, dan permintaan untuk keperluan perhiasan di posisi kedua, dengan persentase sebesar 20,3% dari total demand 2019.

Penguatan tajam perak di tahun ini juga dipicu oleh ekspektasi peningkatan permintaan dari industri. Sebabnya, perekonomian global yang diramal akan pulih dari kemerosotan, sehingga permintaan perak pun membaik.

Bank RBC menaikkan proyeksi harga perak dengan melihat potensi peningkatan tersebut.

"Permintaan perak untuk industri dan investasi akan rebound cukup kuat" kata Bank RBC sebagaimana dilansir mining.com

RBC sebelumnya memprediksi permintaan perak di tahun ini akan merosot 17% di tahun ini dibandingkan tahun lalu, kini prediksi penurunan hanya 4% saja.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading