Beli Bahan Vaksin dari China, Bio Farma Rogoh Kocek Berapa?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
13 August 2020 13:23
Presiden Joko Widodo tiba di PT Bio Farma (Persero) Bandung untuk meninjau fasilitas produksi dan pengemasan Vaksin COVID-19, Selasa 11 Agustus 2020 pukul 09.45 WIB. (Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Holding BUMN Farmasi, PT Bio Farma (Persero) saat ini masih menghitung kebutuhan dana yang diperlukan untuk mendatangkan bahan aktif pembuatan vaksin Covid-19 dari China.

Namun demikian, dipastikan tidak ada investasi baru yang dilakukan perusahaan untuk fasilitas pembuatan vaksin ini.

Corporate Secretary Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan kerja sama dengan Sinovac Biotech Ltd. tidak ada pembicaraan agar perusahaan membayarkan royalti untuk vaksin ini.


"[Sistemnya] Beli saja, pengadaan bahan aktifnya. Jadi sama-sama untung, mereka kan kapasitas produksinya kecil, tapi saya tidak tahu mereka pastinya berapa. Kebutuhan dananya nunggu fase 3 selesai," kata Bambang kepada CNBC Indonesia, Rabu (12/8/2020).

Dia mengungkapkan, kebutuhan bahan baku untuk vaksin ini sudah bisa dipenuhi perusahaan mengingat platform pengembangan yang antara Sinovac dan Bio Farma yaitu inactivated vaccine, sehingga perusahaan hanya perlu membeli bahan aktif dari China dan menggunakan bahan baku yang sudah tersedia di fasilitasnya.

Namun demikian, jumlah bahan aktif yang akan diimpor ini juga bergantung pada kesanggupan Sinovac untuk menjualnya ke Indonesia. Setelah hal ini dipastikan dan uji klinis fase 3 ini rampung, perusahaan dan Sinovac akan segera melakukan transfer teknologi.

"Nanti melakukan transfer teknologi, formulasinya seperti apa, baru itu ada transfer teknologi. Kalau datang kita tinggal produksi, bahan lainnya sudah ada," ungkapnya.

Kesiapan fasilitas produksi, kata Bambang, saat ini yang sudah eksisting sebanyak 100 juta dosis/tahun. Ini merupakan kapasitas produksi yang belum dipakai dari total maksimal kapasitas 2,5 miliar-3 miliar per tahun.

Namun mengingat kebutuhan vaksin Covid-19 yang tinggi dan mendesak, perusahaan akan mengebut penyelesaian fasilitas produksi barunya. Dengan fasilitas baru ini, Bio Farma akan mendapatkan kuota produksi baru hingga 250 juta dosis/tahun.

Kami memang sedang mengembangkan penambahan fasilitas meningkatkan kapasitas. Ternyata terjadi pandemi ya fasilitas ini kita alihkan dulu untuk kepentingan tersebut. Jadi memang ada pengalihan," terangnya.

Sebelumnya Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir pada awal Februari lalu, mengatakan tahun ini, BUMN Farmasi mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 3 triliun. Sekitar Rp 2 triliun di antaranya akan diserap oleh PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Selebihnya akan diserap Bio Farma dan PT Indofarma Tbk (INAF). KAEF dan INAF adalah anak usaha Bio Farma.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading