Usai Merugi, Bos Garuda Beberkan Strategi Pulihkan Kinerja

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
04 August 2020 10:38
Airbus A330-900 Garuda Indonesia (Airbus)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah mengalami penurunan kinerja drastis sebagai dampak pandemi Covid-19, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) bakal mengoptimalisasi pendapatan melalui pendapatan penumpang penerbangan berjadwal, layanan kargo udara hingga penerbangan carter.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan selain melakukan optimalisasi pendapatan, perusahaan juga melakukan pengelolaan biaya, di antaranya negosiasi biaya pengelolaan pesawat, restrukturisasi utang hingga melakukan efisiensi biaya operasional.

"Namun demikian kami terus memperkuat langkah pemulihan kinerja seoptimal mungkin agar Perseroan dapat segera rebound dan memperoleh pencapaian kinerja yang semakin membaik. Fokus utama kami adalah mengupayakan perbaikan fundamental Perseroan secara terukur dan berkelanjutan," kata Irfan dalam siaran persnya, dikutip Selasa (4/8/2020).


Dia menjelaskan, kinerja perusahaan terdampak signifikan akibat adanya pembatasan pergerakan dan penerbangan pada masa pandemi. Rata-rata frekuensi penerbangan menurun drastis dari yang sebelumnya melayani lebih dari 400 penerbangan per harinya menjadi hanya berkisar diangka 100 penerbangan per hari.

Selain itu juga terjadi penurunan jumlah penumpang yang drastis hingga mencapai 90%.

Hingga akhir Juni 2020, perusahaan mencatatkan kerugian mencapai US$ 712,72 juta (Rp 10,40 triliun, asumsi kurs Rp 14.600/US$) pada Akhir semester I-2020. Pada sepanjang kuartal I-2020 lalu Garuda juga membukukan kerugian bersih senilai US$ 120,1 juta

Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu dimana perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih senilai US$ 24,11 juta.

Begini Gaya Dirut Baru Garuda Hadapi Ujian Pandemi Di Awal Kepemimpinan (CNBC Indonesia TV)Foto: Begini Gaya Dirut Baru Garuda Hadapi Ujian Pandemi Di Awal Kepemimpinan (CNBC Indonesia TV)
Begini Gaya Dirut Baru Garuda Hadapi Ujian Pandemi Di Awal Kepemimpinan (CNBC Indonesia TV)

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan perusahaan pada periode ini mengalami penurunan drastis sampai 58,18% secara year on year (YoY). Pendapatan perusahaan tercatat senilai US$ 917,28 juta (Rp 13,39 triliun), turun tajam dari US$ 2,19 miliar di akhir Juni 2019 lalu.

Penurunan paling tajam terjadi pada pendapatan dari penerbangan berjadwal yang turun menjadi US$ 750,25 juta dari sebelumnya di enam bulan pertama tahun lalu senilai US$ 1,85 miliar.

Namun demikian, terjadi kenaikan pada pos pendapatan penerbangan tidak berjadwal dari sebelumnya senilai US$ 4,37 juta menjadi sebesar US$ 21,54 juta.

Hanya saja kenaikan ini juga tak bisa mengkompensasi penurunan kinerja perusahaan, sebab juga terjadi penurunan pendapatan lainnya menjadi US$ 145, 47 juta dari US$ 334,06 juta.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading