Usai Ambles ke Level Terendah, Harga Batu Bara Naik Secuil

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
30 July 2020 12:02
Coal barges are pictured as they queue to be pull along Mahakam river in Samarinda, East Kalimantan province, Indonesia, August 31, 2019. Picture taken August 31, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara mulai menunjukkan adanya tanda kenaikan setelah terkoreksi dalam 9 hari perdagangan berturut-turut. Terhitung pada periode 15-29 Juli 2020, harga batu bara telah anjlok 6,7%. 

Pada perdagangan Rabu (29/7/2020) harga batu bara termal acuan Newcastle untuk kontrak yang aktif ditransaksikan mencatatkan penguatan 0,58% ke level US$ 52 per ton. 


Harga batu bara tampak resisten untuk menembus level lebih tinggi dari US$ 56/ton. Sementara harga terendah yang tercatat sejak akhir April 2020 berada di US$ 50,9/ton. 

Mulai memasuki bulan Mei saat pelonggaran lockdown mulai banyak dilakukan harga batu bara sempat rebound. Namun setelah itu, harga batu bara cenderung bergerak sideways dengan rentang US$ 52 - US$ 56 per ton.

Mobilitas publik yang membaik membuat adanya harapan aktivitas ekonomi akan berangsur pulih dan permintaan terhadap komoditas juga ikut terkerek. Namun apa daya, relaksasi lockdown justru harus diikuti dengan lonjakan kasus baru. 

Ancaman gelombang kedua wabah membuat prospek dan pemulihan ekonomi ke depan menjadi terancam. Apalagi batu bara merupakan komoditas yang banyak digunakan untuk sektor industri terutama sebagai bahan bakar pembangkit listrik, pembuatan baja hingga industri pupuk.

Dengan kapasitas produksi yang masih rendah dan sektor bisnis yang cenderung menahan diri dari ekspansi membuat kebutuhan batu bara masih rendah. Kebijakan impor China yang tak menentu juga menjadi sentimen yang turut mempengaruhi pergerakan harga komoditas batu bara.

Sebelumnya China dikabarkan bakal mengetatkan kuota impornya pada paruh kedua tahun ini seiring dengan impor yang sudah jor-joran pada kuartal kedua dan guna mendongkrak industri domestik.

Namun harga batu bara China yang terlampau tinggi membuat margin perusahaan utilitas tergerus. Hal ini jelas membuat dilema China. Di satu sisi ingin mengerek pendapatan para penambang, di sisi lain harus tetap menjaga profitabilitas perusahaan utilitas.

Sempat beredar kabar bahwa China akan melonggarkan kuota impor batu baranya. Namun sampai dengan hari ini tidak ada kejelasan seputar rumor tersebut. Menurut data bea cukai China, impor batu bara kokas China pada bulan Juni 2020 turun 4% (yoy). Sementara impor pada paruh pertama tahun ini justru naik 5% (yoy).

Selain kenaikan kasus Covid-19 di berbagai negara, tensi geopolitik antara AS-China serta bergabungnya Australia dengan AS di Laut China Selatan juga harus diwaspadai. China bisa semakin geram dan bisa saja mengembangkan kisruh sebelumnya menjadi perang dagang yang lebih luas.

Saat Australia mendukung langkah investigasi terhadap asal muasal virus corona yang jadi penyebab pandemi seperti sekarang ini membuat Beijing geram. China yang tak terima langsung menghukum Australia dengan menerapkan tarif masuk 80% untuk produk pertanian Negeri Kanguru berupa barley.

China juga menangguhkan impor produk pertanian lain seperti daging sapi. Tak sampai di situ saja Negeri Tirai Bambu juga mewanti-wanti masyarakat, turis hingga siswanya untuk tidak mengunjungi negara yang dianggap rasis.

Jika konflik ini terus berkembang akibat bergabungnya Australia dengan AS untuk melakukan latihan militer di Laut China Selatan, bisa saja China menarget komoditas unggulan Negeri Kanguru yaitu batu bara. Meskipun pada akhirnya tetap perang dagang akan merugikan kedua belah pihak.

Tensi geopolitik dan ancaman gelombang kedua wabah pada akhirnya menjadi dua faktor yang signifikan dalam menentukan seberapa lama permintaan dan harga batu bara akan tertekan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading