Beruntunglah Pemegang Emas Sejak 2010, Cuanmu Ratusan Persen!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
28 July 2020 13:53
A Thai shopkeeper talks to customer who sold gold necklace to the gold shop in Bangkok, Thailand, Thursday, April 16, 2020. With gold prices rising to a seven-year high, many Thais have been flocking to gold shops to trade in their necklaces, bracelets, rings and gold bars for cash, eager to earn profits during an economic downturn.(AP Photo/Sakchai Lalit) Foto: Harga Emas Meroket di Thailand. IAP/Sakchai Lalit)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kejutan (shock) yang dialami oleh perekonomian global akibat perang dagang pada 2018 silam telah melambungkan harga emas. Isu resesi global akibat merebaknya pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) seolah menjadi bahan bakar bagi reli tak terbendung harga logam kuning itu.

Harga emas dunia di pasar spot masih terus naik hingga hari ini, Selasa (28/7/2020). Pada 12.15 WIB, harga bullion dibanderol US$ 1.941/troy ons. Ini merupakan rekor tertinggi baru yang pernah tercatat sepanjang sejarah. 

Harga emas bahkan sempat melambung ke US$ 1.970/troy ons. Pergerakan harga akhir-akhir ini membuat para pelaku pasar optimis emas bisa sentuh level psikologis selanjutnya di US$ 2.000/troy ons.

Jika menggunakan harga emas hari ini dan kurs Rp 14.480/US$, maka 1 gram emas akan setara dengan Rp 905.499. Bayangkan jika Anda sudah memegang aset tersebut untuk jangka waktu 10 tahun. 

Mari flashback ke hari yang sama di bulan yang sama tahun 2010. Kala itu harga satu gram emas masih dibanderol di Rp 339.128. Artinya dalam kurun waktu 10 tahun harga emas telah melesat 167%. 

Jika menggunakan perhitungan coumpounding (CAGR), maka instrumen logam mulia ini akan memberikan imbal hasil 11,5% per tahunnya. Dengan rata-rata tersebut, imbal hasil dari emas masih bisa memberikan proteksi pemiliknya terhadap hidden tax atau inflasi. 

Rata-rata tingkat inflasi inti dalam sepuluh tahun terakhir di Tanah Air berada di angka 3,79%. Jika menggunakan itung-itungan imbal hasil secara sederhana, ada selisih (spread) sebesar 7,79% dari memegang aset emas.

Emas memang tidak secara konsisten memberikan cuan. Kemilau emas baru mulai terlihat ketika kondisi ekonomi global goyah seperti yang terjadi dua tahun belakangan ini. Pada 2018, ketika Negeri Paman Sam mulai menabuh genderang perang dagang dengan mitranya (China) pertumbuhan volume perdagangan dan output melambat.

Pelaku pasar mulai melakukan aksi beli emas. Hal ini membuat harga emas dunia naik hingga 17,94%. Harga emas global naik, harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga mendapat berkahnya. 

Di akhir tahun 2018, untuk logam mulia Antam kepingan 100 gram harganya dibanderol di Rp 618.000/gram. Selang setahun kemudian harga emas Antam naik menjadi Rp 713.000/gram. Harga emas Antam naik 15,4% dalam setahun.

Secara year to date (ytd) kenaikan harga emas dunia bahkan lebih 'gila' lagi. Di sepanjang tahun berjalan ini harga emas dunia telah naik 25%, sementara harga emas Antam naik 35% di saat yang sama.

Emas sebagai aset safe haven banyak diburu saat krisis terjadi. Namun krisis yang sekarang bukanlah seperti yang sudah-sudah. Ini adalah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya (unprecedented).

Pandemi Covid-19 membuat prospek ekonomi global sangatlah suram. Duo lembaga keuangan global hasil dari perundingan Bretton Wood 76 tahun silam (IMF & World Bank) memperkirakan output global bakal terkontraksi 4,9 - 5,2% tahun ini. 

Jika pandemi masih terus merebak serta tensi geopolitik Washington-Beijing semakin naik maka resesi global akan menjadi semakin parah. Di sisi lain suku bunga acuan yang rendah dan rendahnya inflasi membuat suku bunga riil masuk ke teritori negatif dan menguatkan fundamental emas. 

Kebijakan bank sentral berupa pembelian aset-aset keuangan seperti obligasi pemerintah, efek beragun aset KPR (MBS) atau sering disebut quantitative easing (QE) membuat likuiditas menjadi berlimpah. Banjir pasokan dolar membuat greenback terdevaluasi. 

Penurunan nilai dolar tercermin dari pelemahan indeks dolar yang kini berada di posisi terendahnya dalam dua tahun. Pasokan uang yang berlimpah juga turut menimbulkan ancaman inflasi yang lebih tinggi di masa depan. 

Tentu ini menjadi berkah bagi emas. Lagipula sejak AS keluar dari perjanjian Bretton Wood zaman Presiden Richard Nixon 1971, nilai dolar cenderung terus terdepresiasi di hadapan emas. 

Pada 1968-1971, satu troy ons emas (31,1 gram) dibanderol di US$ 35. Sekarang 1 troy ons dibanderol di US$ 1.940. Artinya nilai dolar telah mengalami penurunan yang sangat signifikan dalam hampir setengah abad terakhir. 

Bank of America (BoA) memperkirakan bahwa harga emas dalam 18 bulan sejak April berpotensi tembus ke level US$ 3.000/troy ons. Dengan asumsi nilai tukar rupiah berada di Rp 14.500/US$ maka harga emas bakal menyentuh level Rp 1.398.714/gram. Apabila angka tersebut berhasil dicapai, maka cuan emas sejak 2010 mencapai 300%. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Penampakan Grafik Harga Emas: Dari Rp 400.000 ke Rp 900.000!


(twg/twg)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading