Jerman Bawa Kabar Buruk, Harga Batu Bara Makin Melorot

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
28 July 2020 10:43
Coal barges are pictured as they queue to be pull along Mahakam river in Samarinda, East Kalimantan province, Indonesia, August 31, 2019. Picture taken August 31, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang aktif diperdagangkan masih bergerak dalam tren menurun. Kali ini sentimen negatif kembali datang dan menekan harga batu bara.

Pada perdagangan kemarin, Senin (27/7/2020), harga batu bara ditutup terkoreksi 1,41% ke US$ 52,35/ton. Harga batu bara saat ini bergerak menuju level terendahnya di US$ 52/ton.


Kabar kurang mengenakkan kembali datang dari Benua Biru. Bank asal Jerman, Deutsche Bank telah mengumumkan rencananya untuk mengakhiri kegiatan bisnis global dalam penambangan batu bara paling lambat tahun 2025 untuk membantu mendorong transformasi menuju ekonomi yang berkelanjutan.

Sebelumnya, bank telah menetapkan tujuan tiga tahun untuk mengurangi eksposur pinjamannya ke pembangkit listrik tenaga batu bara sebesar 20 persen. Tujuan tersebut akhirnya tercapai pada 2019 silam.

Selain itu, Deutsche Bank telah menandatangani Prinsip Khatulistiwa yang merupakan kerangka kerja manajemen risiko untuk menilai risiko lingkungan dan sosial dari proyek pembiayaan.

Prinsip-prinsip memastikan bahwa standar lingkungan dan sosial yang ketat diterapkan selama pengembangan proyek dan proses konstruksi, termasuk pemantauan tindak lanjut. 

"Kebijakan Bahan Bakar Fosil kami yang baru memberi kami kerangka kerja yang ketat untuk kegiatan bisnis kami di sektor minyak, gas, dan batu bara," kata Chief Executive Officer Christian Sewing.

Kebijakan ini akan membantu untuk memenuhi komitmen kolektif sektor keuangan Jerman terhadap aksi iklim yang ditandatangani bank pada Juni tahun lalu. Deutshe Bank berjanji untuk menyelaraskan portofolio kreditnya dengan tujuan Perjanjian Paris. 

Eropa memang terkenal sangat agresif untuk mengurangi konsumsi batu baranya. Konsumsi batu bara masih tumbuh di kawasan Asia terutama dari India dan China.

Namun pelemahan permintaan akibat pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) serta kepentingan untuk menunjang sektor pertambangan batu bara domestik membuat harga batu bara acuan tertekan selama ini. 

Mengutip Argus Media, saat ini fenomena alam berupa badai turut mengganggu jalannya pengiriman batu bara dari Negeri Kangguru.

Hujan deras, angin kencang dan kondisi ombak yang kuat telah memaksa kapal-kapal yang menunggu untuk mengakses Newcastle dan Port Hedland. Akses ke pelabuhan Newcastle telah dibatasi sejak 24 Juli.

Badai diperkirakan akan berlanjut besok sebelum kembali ke kondisi yang lebih ringan pada 29 Juli. Penutupan ini mengikuti langkah serupa yang pernah diterapkan pada 13-18 Juli karena cuaca buruk.

Argus Media melaporkan ada 21 kapal menunggu dari pelabuhan Newcastle. Ada tambahan delapan unit kapal yang menunggu di pelabuhan. Ini naik dari 13 kapal yang antri di pelabuhan pada akhir Juni.

Pelabuhan Newcastle mengirim 14,32 juta ton batu bara di bulan Juni, naik dari 11,46 juta ton di bulan Mei tetapi turun sedikit di atas 14,7 juta ton yang dikirim pada bulan Juni 2019.

Data pengiriman awal menunjukkan bahwa pengiriman bulan Juli dari Newcastle dan Port Kembla yang lebih kecil akan kembali sekitar level Mei atau mungkin di bawah, tergantung seberapa cepat pelabuhan dapat dibuka kembali setelah badai.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading