Gokil! Vaksin Bikin Saham Farmasi Terbang, Ini 5 Jawaranya

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
23 July 2020 06:51
Uji Lab Kandidat Obat Herbal untuk Covid-19 di Lab Cara Pembuatan Obat Tradisonal Baik (CPOTB) Pusat Penelitian Kimia LIPI. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten farmasi tengah mendapat sentimen positif vaksin Covid-19 di Tanah Air. Setelah 2 hari terakhir saham duo emiten BUMN farmasi 'mengamuk', pada perdagangan Rabu kemarin (22/7/2020) saham PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) sentuh batas auto reject atas (ARA).

Dua emiten farmasi BUMN tersebut merupakan anak usaha BUMN farmasi PT Bio Farma (Persero). Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pada pukul 10.00 WIB, Rabu pagi, 'duet maut' saham farmasi pelat merah ini sama sama menyentuh batas atas maksimal kenaikan harian atau auto reject atas sebesar 25% hingga penutupan.

Saham INAF menguat 24,92% di level Rp 1880/saham dengan nilai transaksi Rp 31,31 miliar dan volume perdagangan 17,27 juta saham


Sementara saham KAEF juga melesat 24,78% di level Rp 2.140/saham dengan nilai transaksi 149,29 miliar dan volume perdagangan 72,27 juta saham.

Batas auto reject untuk range harga saham Rp 200-5.000 adalah 25% dalam sehari. Sementara level harga Rp 50-Rp 200 akan dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan sebesar 35%.

Selain INAF dan KAEF, sejumlah saham farmasi lainnya juga melesat. Data BEI mencatat, setidaknya terdapat 10 emiten farmasi (sub-sektor farmasi di sektor industri barang konsumer). 

Berikut jawaranya, berdasarkan data penutupan Rabu kemarin (22/7).

Jawara Saham Emiten Farmasi

Saham

1H (%)

1M(%)

1B (%)

INAF Rp 1.880

24,92

69,37

88

KAEF Rp 2.140

24,78

68,50

87,72

PEHA Rp 1.525

25

34,36

33,77

PYFA Rp 1.015

23,03

53,79

66,39

KLBF Rp 1.575

3,62

4,30

7,88

DVLA Rp 2.260

3,20

2,26

2,73

MERK Rp 3.940

2,34

12,57

43,27

SIDO Rp 1.245

0,40

2,05

2,47

Data per 22 Juli 2020

Mengacu data tersebut, INAF mencatatkan penguatan paling tinggi secara harian dan paling tinggi dalam 5 hari perdagangan terakhir. Begitu juga dalam sebulan terakhir, INAF masih tercatat paling kencang, disusul PT Pyridam Farma Tbk (PYFA). Kabar masuknya investor baru yakni Rejuve Global Investment Pte Ltd asal Singapura ke PYFA menjadi sentimen positif.

Pada Senin pekan ini, memang terjadi aksi borong saham PYFA di pasar negosiasi yang dilakukan satu broker (crossing saham).

Beberapa nama perusahaan farmasi lainnya tak dimasukkan karena tak likuid dan harga tidak bergerak seperti PT Tempo Scan Pasific Tbk (TSPC), dan Merk Sharp Dohme Pharma Tbk (SCPI). 

Sementara PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA), PT Merck Indonesia Tbk (MERK), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), dan cucu usaha Bio Farma yakni PT Phapros Tbk (PEHA) masuk hitungan.

Saham-saham farmasi memang ditutup melesat seiring dengan kabar vaksin Covid-19 yang sudah sampai di Indonesia. Bahkan kenaikan ini sendiri sudah terjadi sejak Senin ketika kabar sampainya vaksin Sinovac di Indonesia menjadi viral dengan munculnya foto tumpukan kotak vaksin bertuliskan SARS-CoV-2 Vaccine (Vero cell) Inactived dengan ukuran 0,5 ml. Sementara foto lainnya ada tulisan Diplomatic Goods penanganan Covid-19 Bio Farma, Bandung.

Perusahaan induk (holding) BUMN Farmasi PT Bio Farma, induk KAEF dan INAF, menyatakan siap untuk melakukan uji klinis tahap 3 untuk vaksin Covid-19.

Bio Farma akan menggunakan 2.400 vaksin Sinovac dari China yang tiba 19 Juli 2020, untuk tahap awal uji klinis tahap 3 yang akan mulai dilakukan pada Agustus.

Dalam siaran pers yang disampaikan Bio Farma, Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan, uji klinis tahap 3 vaksin Covid-19, dijadwalkan akan berjalan selama enam bulan, sehingga ditargetkan akan selesai pada bulan Januari 2021 mendatang.

"Apabila uji klinis vaksin Covid-19 tahap 3 lancar, maka Bio Farma akan memproduksinya pada Q1 2021 mendatang, dan kami sudah mempersiapkan fasilitas produksinya di Bio Farma, dengan kapasitas produksi maksimal di 250 juta dosis", ujar Honesti.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading