Covid-19 Melandai, Cuan BUMN Farmasi Menguap

Market - teti purwanti, CNBC Indonesia
24 November 2022 14:40
Bio Farma/Setkab Foto: Bio Farma/Setkab

Jakarta, CNBC Indonesia - Holding BUMN farmasi terdiri dari PT Bio Farma (Persero), PT Kimia Farma (Tbk), PT Indofarma (Tbk), dan terbaru INUKI memperkirakan laba bersih yang dicetak perseroan sampai akhir 2022 menyusut tajam dibanding tahun lalu. Hal ini dikarenakan pendapatan dari produk terkait COVID-19 sudah jauh berkurang seiring landainya pandemi.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & SDM Bio Farma I.G.N Suharta Wijaya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (24/11/2022) mengatakan permintaan pasar atas produk Covid-19 mengalami penurunan secara tahunan.

"Holding BUMN Farmasi bergerak untuk melakukan peralihan pasar dari permintaan produk covid," jelas Suharta.

Di sisi lain, untuk mengatasi perbedaan jumlah penjualan produk Covid, perusahaan melakukan perbaikan kinerja penjualan produk regula vaksin, bulk-ekspor, dan retail. Sampai September 2022, BUMN Farmasi sudah mengantongi pendapatan Rp 15,9 triliun. Pendapatan dari reguler mencapai Rp 11,3 triliun dan terkait COVID-19 Rp 4,6 triliun.

Sampai akhir 2022, holding BUMN farmasi menargetkan bisa mengantongi pendapatan Rp 22,2 triliun. Rincian komposisinya dari penanganan COVID-19 Rp 5,99 triliun, sementara reguler Rp 16,2 triliun.

"Memang ini dibandingkan 2021 ada penurunan 49% yang memang kita ketahui sangat terpengaruh dengan kondisi pandemi yang ada," tuturnya.

Sejalan dengan itu, laba holding BUMN farmasi sampai akhir 2022 ditargetkan mencapai Rp 769 miliar. Sampai September 2022, pihaknya baru mengantongi laba Rp 144 miliar.

"Kami menargetkan (2022) akan mencapai laba secara keseluruhan Rp 769 miliar, di mana kontribusi terbesar Rp 738 miliar dari produk reguler, sementara produk terkait COVID hanya Rp 31 miliar," jelas Suharta.

Target perolehan laba tersebut menyusut tajam jika dibandingkan saat pandemi COVID-19. Sebagai informasi holding BUMN farmasi membukukan laba Rp 289 miliar pada 2020 dan melonjak jadi Rp 1,93 triliun pada 2021, yang dominan berasal dari penjualan produk dan jasa terkait COVID-19.

"Di 2022 saat pandemi sudah melandai, pendapatan terkait produk terkait COVID sudah jauh berkurang sehingga kami harus melakukan lebih banyak lagi upaya untuk meningkatkan pendapatan dari produk reguler," tandasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bio Farma Gandeng Farmasi Inggris, Ada Proyek Apa?


(tep/ayh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading