Jreng! Ini Alasan Bos Jouska Kenapa Pilih Saham LUCK

Market - Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia
22 July 2020 11:05
Diskusi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Founder dan Chief Executive Office (CEO) PT Jouska Finansial Indonesia, Aakar Abyasa Fidzuno, menjelaskan analisis saham PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK) untuk menjadi pilihan salah satu portofolio investasi.

Saat wawancara dengan CNBC Indonesia, Aakar menjelaskan dalam memberikan rekomendasi saham untuk investasi, Jouska selalu memberikan beberapa saham yang menjadi pilihan.

"Kenapa LUCK? Kita memilih beli itu misal LUCK itu lagi uptrend [menguat] kala itu di 2019. Saham yang lagi uptrend kenapa tidak untuk direkomendasikan, kemudian sampai Mei (2019) itu mereka masih bagi dividen beda lho, itu beda sama saham gocap [saham Rp 50]. Dan kita tidak merekomendasikan investasi bodong. Saham yang ada di BEI itu legal untuk dijual dan dibeli," kata Aakar, kepada CNBC Indonesia, Selasa (21/7/2020).


Terkait dengan permintaan klien untuk menjual saham LUCK, Aakar mengatakan, bahwa Jouska juga sudah memberikan rekomendasi. "Jika saat itu uptrend, maka artinya wajar untuk menjadi sebuah pilihan, apalagi jika pada masa tersebut market sedang sideways. Saham yang ada di BEI itu legal untuk dijual dan dibeli," tambah Aakar lagi.

Aakar memberikan contoh, saham Amazon pada saat dilepas di pasar perdana (initial public offering/IPO), cuma sedikit investor yang berminat membeli saham Amazon. Sekadar catatan, Amazon resmi melantai di bursa Wall Street pada 15 Mei 1997.

"Tahu nggak waktu itu Amazon IPO, siapa mau beli saham itu yang katanya nggak jelas di awal-awal. Lha, coba sekarang berapa saham Amazon?" kata Aarka.

CNBC Indonesia mencoba menanyakan perihal rekomendasi saham yang diberikan Jouska buat kliennya kepada praktisi pasar modal. Salah satu pelaku pasar saham mengatakan, seharusnya Jouska memberikan rekomendasi saham-saham yang likuid kepada klien.

"Sebagai konsultan investasi, Jouska seharusnya memberikan rekomendasi saham yang bersifat 'liquid', seperti di LQ45 atau Kompas100. Di sana juga banyak perusahaan kecil yang bagus, dan laporan keuangannya dipantau secara reguler oleh analis di pasar modal," kata pelaku pasar tersebut.

Menurut dia, di pasar modal sudah jelas bahwa LUCK termasuk saham yang fundamental dan likuiditasnya dipertanyakan.

Ada konflik kepentingan juga karena LUCK saat melakukan penawaran saham perdana memakai Philips Sekuritas sebagai 'underwriter', yang dalam hal ini juga bekerjasama dengan Jouska.

"Merupakan suatu hal yang tidak dapat dibenarkan jika Jouska merekomendasikan - apalagi mengeksekusi - aset klien untuk diinvestasikan pada saham yang tidak liquid, volume perdagangan hariannya rendah, dan harganya tidak bergerak sesuai fundamental," tambahnya. 

Klien Teriak

Sebelumnya, CNBC Indonesia memberitakan Jouska dipersoalkan salah satu kliennya. Jouska dinilai melakukan pengelolaan dana yang tidak sesuai dengan kesepakatan dengan klien sehingga menimbulkan kerugian.



Muhammad Abdurrahman Khalish, salah seorang klien Jouska, menyampaikan hal tersebut kepada CNBC Indonesia terkait masalah yang dialaminya.

"Saya kehilangan uang puluhan juta karena financial advisory yang serampangan dari Jouska," kata Khalish, saat berbincang dengan CNBC Indonesia melalui layanan pesan singkat, Senin (20/7/2020).



Khalish menceritakan, dirinya menjadi klien Jouska pada September 2018. Saat itu, ia mengambil jasa Manajemen Investasi Saham.

"Karena saya awam masalah investasi dan dunia financial planner atau sejenisnya, jadi saya mempercayakan saja semuanya kepada Jouska," tulis Khalish atau yang biasa disapa Kholis.



Khalish menyampaikan bukti perjanjian, berupa Perjanjian Kerja dengan nomor 0360/0675/7006/IX/2018, tertanggal 21 September 2018 dan berakhir pada 20 September 2019. Dalam kontrak tersebut disebutkan poin-poin yang disepakati terkait hak dan kewajiban antar kedua belah pihak.



Selanjutnya, Khalish membuka Rekening Dana Nasabah (RDI) di perusahaan efek PT Philips Sekuritas lewat Jouska dan mendapatkan aplikasi online trading POEMS. Lalu Khalish menempatkan dana pada RDI yang sudah dibuat tersebut.

Kejanggalan mulai muncul, cerita Khalish, karena pihak Jouska bisa melakukan transaksi.

"Saya tidak memberikan login, tetapi Jouska mampu melakukan transaksi jual & beli di akun tersebut," kata Khalish.



Lalu, Khalish meminta pihak Jouska untuk berinvestasi pada saham-saham syariah saja.

Dalam kurun waktu satu tahun tersebut, Jouska membeli saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan beberapa saham lainnya.



"Karena saya mintanya 'syariah', maka saya minta saham bank dijual. Saham tersebut dijual namun di kemudian hari kembali dibelikan (saham) bank. Jouska juga membelikan (saham) emiten yang baru IPO, yaitu LUCK (PT Sentral Mitra Informatika Tbk)," cerita Khalish.



Pada 10 Agustus 2019, Khalish mendapati saham LUCK masuk dalam daftar unusual market activity (UMA) Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham masuk UMA biasanya pergerakan naik turunnya tidak wajar.


Saran dari Jouska, akan keluar pelan-pelan dari saham tersebut. Pada tanggal 13 September 2019, Kholish meminta saham LUCK dijual.

"Jouska tidak menjual dengan berbagai alasan, bahkan setelah saya datang langsung ke kantornya (20/09/2019 ) untuk meminta emiten tersebut dijual," tutur Kholish.



Kholish mengalami kerugian cukup besar pada saham ini, karena harga pembelian tercatat pada harga Rp 1.965, yang dibeli pada 12 Juli 2019. Portofolio saya sekarang minus lebih dari 50%.

Setelah kejadian ini barulah Khalish mengumpulkan bukti-bukti terkait, berikut pelanggaran perjanjian & etika dan kejanggalan yang Jouska lakukan.



"Total dana saya yang masuk ada RP 91,5 juta, sekarang tinggal Rp 30 jutaan," ujar Kholish.



Menurut Kholish, dirinya bukan satu-satunya klien Jouska yang mengalami hal serupa. Ada klien lainnya yang mengalami hal ini.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading