Hantu Resesi Bergentayangan, IHSG Mampu Jadi Juara 3 Asia

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
18 July 2020 14:35
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Kamis 26/3/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Minggu ini Dewi Fortuna lumayan berpihak ke saham-saham dalam negeri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan dan berhasil keluar sebagai juara tiga di kawasan Benua Kuning.

Di sepanjang 10-17 Juli 2020, IHSG tercatat membukukan apresiasi sebesar 0,96%. Pada saat yang sama indeks Topix (Jepang) dan Kospi (Korea Selatan) masing-masing menguat 2,52% dan 2,37%. 


Apresiasi yang tinggi indeks utama bursa saham Jepang dan Korea Selatan tersebut berhasil membawa keduanya menjadi juara satu dan runner up untuk pekan ini.

Kendati menguat nyaris 1%, bursa saham domestik masih ditinggalkan oleh investor asing. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 1,1 triliun.

Hampir semua indeks sektoral saham Tanah Air berhasil melenggang ke zona hijau kecuali untuk sektor property & real estate yang terkoreksi 2,15%, infrastruktur dengan pemangkasan sebesar 0,31% dan keuangan yang menurun 1,1% minggu ini. 

Pada periode 13 - 17 Juli 2020, IHSG cenderung bergerak di rentang 5.064,45 - 5.098,37. Rata-rata transaksi harian di seluruh pasar mencapai Rp 6,94 triliun. Pergerakan saham diwarnai dengan berbagai peristiwa seminggu terakhir. 

Meski kasus infeksi baru Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) terus meningkat di berbagai negara terutama di AS, kabar perkembangan terbaru kandidat vaksin Covid-19 yang jumlahnya terus bertambah dan menunjukkan hasil positif turut mendongkrak risk appetite investor. 

Kini jumlah penderita Covid-19 di seluruh dunia sudah tembus 14 juta orang. Korban jiwa tercatat mencapai 600 ribu orang. Paling banyak dilaporkan di AS. Pada Kamis kemarin saja, Negeri Paman Sam melaporkan ada tambahan 77 ribu kasus baru dalam 24 jam. 

Pelaku pasar mencemaskan kondisi ini yang dapat berujung pada kembali diterapkannya lockdown. Namun pemerintah dan bank sentral global seolah tak mau membiarkan ekonomi jatuh lebih dalam.

Federal Reserves, bank sentral AS dikabarkan akan tetap melakukan pembelian aset-aset keuangan dengan laju US$ 120 miliar per bulan.

Bank sentral yang dipimpin oleh Jerome Powell tersebut kini sedang mengkaji kebijakan moneter selain pelonggaran kuantitatif (QE) untuk menginjeksi likuiditas ke perekonomian dan menjaga agar biaya meminjam tetap rendah untuk jangka waktu yang cukup panjang.

Beralih ke Eropa, meski bank sentralnya tak mengutak-atik suku bunga acuan dan tak ada yang istimewa terkait program QE yang diterapkan, pihaknya menegaskan bahwa mereka akan terus berusaha menginjeksi likuiditas agar perekonomian tidak semakin jatuh ke dalam jurang resesi.

Program QE yang ditembuh oleh ECB diberi nama Pandemic Emergency Purchase Program (PEPP). Bank sentral yang dipimpin oleh Christine Lagarde tersebut bulan lalu menambah pembelian aset keuangan sebesar 600 miliar euro sehingga membuat total alokasi pembelian mencapai 1,3 triliun euro. 

Di dalam negeri, Gubernur BI Perry Warjiyo beserta sejawat juga kembali mengambil langkah akomodatif berupa pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Total di sepanjang tahun ini otoritas moneter RI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 100 bps. 

Menambah sentimen positif bagi pasar saham adalah kabar dari kandidat vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh Moderna yakni mRNA-1273. Hasil uji klinis tahap I sudah dipublikasikan di New England Journal of Medicine. 

Dari 45 peserta uji coba kandidat vaksin, semuanya terbukti mampu menghasilkan antibodi setelah kandidat mRNA-1273 diinjeksikan ke tubuh mereka. Pada percobaan putaran kedua antibodi penetral Covid-19 bahkan mulai dihasilkan. 

Kabar ini membuat pasar menjadi sumringah. Berbagai rilis data ekonomi penting seperti pertumbuhan ekonomi China yang positif hingga neraca dagang RI yang surplus US$ 1,27 miliar mengindikasikan bahwa ekonomi sedang berada pada jalur pemulihan.

Kendati demikian pelaku pasar juga masih tetap waspada dan belum benar-benar berani mengambil risiko. Hal ini terlihat jelas ketika melihat harga emas yang sudah tembus level psikologis US$ 1.800 per ons pekan ini. 

Ancaman gelombang kedua wabah yang semakin nyata membuat investor semakin berhati-hati dalam membuat alokasi asetnya. Di Indonesia sendiri pandemi juga belum usai. Bukannya menurun, kasus malah berfluktuasi cenderung meningkat. 

Peningkatan kasus yang tinggi terutama di daerah seperti DKI Jakarta membuat pemerintah provinsi setempat kembali memutuskan untuk memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk dua pekan ke depan. 

Ini menjadi sentimen negatif di kalangan para pelaku pasar yang sudah sumringah karena ekonomi mulai bergeliat. Jika jumlah kasus terus bertambah signifikan sehingga PSBB yang ketat dan masif kembali dilakukan, maka resesi adalah sebuah keniscayaan bagi ekonomi RI. 

Menteri Keuangan pada beberapa hari lalu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Tanah Air dari sebelumnya di minus 3,8% pada kuartal kedua menjadi minus 4,3%. Lembaga keuangan global yakni Bank Dunia juga menyoroti jika mobilitas tak membaik di bulan Juli atau Agustus maka ekonomi RI bakal terkontraksi 2% tahun ini.

Ancaman resesi tentunya bukan main-main, apalagi untuk sekelas negara berkembang yang pertumbuhannya tinggi. Inilah yang membuat pasar sampai saat ini belum bisa reli sepenuhnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading