Aksi "Buang Dolar" China Bisa Bikin Ekspor Indonesia Melesat?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 July 2020 15:21
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this picture illustration taken May 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu dedolarisasi atau "buang dolar" oleh raksasa ekonomi dunia, China, belakangan mulai menghangat lagi. Sebabnya, hubungan dengan Amerika Serikat (AS) yang kerap panas dingin. Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) kini menjadi penyebab panasnya lagi hubungan kedua negara yang sempat mesra di awal tahun ini setelah menandatangani kesepakatan dagang fase I.

Dengan hubungan politik yang naik-turun tersebut, Pemerintah Tiongkok dikabarkan berusaha mengurangi ketergantungan dolar dan menaikkan pamor mata uang yuan.

Akibatnya, isu "buang dolar" kembali mencuat, dan China disebut berusaha menaikkan pamor yuan China sebagai mata uang internasional.


"Internasionalisasi yuan berubah dari sesuatu yang diinginkan menjadi hal yang sangat diperlukan bagi Beijing. China perlu mencari pengganti dolar di tengah ketidakpastian politik," kata Ding Shuang, kepala ekonom Standard Chartered untuk wilayah China dan Asia Utara, seperti diberitakan Bloomberg.

Pemerintah China hari ini melaporkan data produk domestic bruto (PDB) China periode April-Juni yang tumbuh 3,2% year-on-year (YoY. Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dari hasil polling Reuters menunjukkan PDB diperkirakan tumbuh 2,5% YoY.

Di saat yang sama, perekonomian China mulai bangkit dari keterpurukan. Sektor manufaktur China bahkan hanya sekali berkontraksi, di bulan Februari, setelahnya mencatat ekspansi dalam 4 bulan beruntun.

Pertumbuhan tersebut tentunya menandai kebangkitan ekonomi China, setelah berkontraksi alias minus 6,8% YoY di kuartal I-2020, menjadi yang terburuk sepanjang sejarah.

Kebangkitan ekonomi China pasca pandemi Covid-19 tersebut memicu penguatan nilai tukar yuan atau yang disebut juga renminbi.

Pada 27 Mei lalu, yuan menyentuh level 7,1681/US$ yang merupakan level terlemah sejak September 2019 kala menyentuh level 7,1786/US$.

Untuk diketahui, level di bulan September tahun lalu tersebut merupakan yang terlemah sejak Februari 2008, artinya depresiasi yuan di tahun ini hingga mendekati level terlemah dalam 12 tahun terakhir.

Tetapi setelah mencapai level tersebut, yuan perlahan terus menguat melawan dolar AS. Hingga penutupan perdagangan Rabu kemarin, renminbi sudah menguat 2,53% berada di level 6,9885/US$.

Nilai tukar yuan diprediksi masih akan terus menguat. Bank investasi ternama, Goldman Sachs, memprediksi kurs yuan China akan menguat tajam dalam 12 bulan ke depan. Prediksi tersebut diberikan melihat perekonomian Negeri Tiongkok yang mulai bangkit.

Zach Pandl, analis mata uang emerging market dari Goldman Sachs, memberikan proyeksi dalam 12 bulan ke depan, kurs yuan akan menyentuh level 6,7/US$.

Jika melihat ramalan Pandl, dibandingkan posisi penutupan kemarin maka dalam periode 1 tahun yuan akan menguat 4,13%.

Yuan Menguat, Ekspor dari Indonesia Bakal Meningkat?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading