Situasi Berat, Garuda Tunda Beli 4 Airbus & Cancel 49 Boeing

Market - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
14 July 2020 16:00
A seal is seen on Garuda Indonesia's Boeing 737 Max 8 airplane parked at the Garuda Maintenance Facility AeroAsia, at Soekarno-Hatta International airport near Jakarta, Indonesia, March 13, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan

Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai penerbangan BUMN, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) harus benar-benar melakukan efisiensi dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Sejumlah kontrak dengan pabrikan pesawat dunia yang sudah terjalin terpaksa harus ditahan mengingat tidak pastinya situasi akibat pandemi Covid-19 yang mengglobal dan menghantam hampir seluruh sektor ekonomi, tak terkecuali maskapai penerbangan.

"Tahun ini seharusnya Garuda menerima kedatangan 4 pesawat Airbus. Kita sedang menegosiasi dengan Airbus untuk menunda penerimaan itu," kata Direktur Utama Garuda, Irfan Setiaputra dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (14/7).


Bukan hanya perjanjian dengan pabrikan pesawat Eropa yang berbasis di Prancis itu, namun Garuda Indonesia juga sudah memiliki perjanjian kontrak dengan produsen pesawat asal Amerika Serikat, yakni Boeing. Bahkan jumlahnya jauh lebih banyak.

"Di samping itu secara kontraktual kami punya kewajiban untuk menerima sekitar 49 [unit] 737 MAX. Kita baru terima 1, secara kontraktual ada 50 [unit] pembelian 737 MAX. Karena kondisi airlines yang jatuh. Kesepakatan semua pesawat itu di-grounded-kan 1 pesawat 737 MAX," papar Irfan.

Meski tidak menyebutkan secara detail apa dan berapa harga pesawat Boeing 737 MAX yang dimaksud, namun berdasarkan catatan CNBC Indonesia, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal sudah memastikan tidak akan melanjutkan pembelian 49 pesawat Boeing 737 Max 8 yang sedianya mulai dikirim di 2020 pada awal tahun lalu.

"Kita baru datang 1 [Boeing], setelah 49 kita berkirim surat untuk cancel. Kita pastikan akan mengambil sikap tidak ambil sisa," ungkapnya di Konferensi Pers di Kantor Pusat Garuda Indonesia Soekarno Hatta, Kamis, (23/01/2020).

Dia mengatakan, adapun kondisi keuangan Garuda saat ini tidak bisa dibilang baik. Cashflow atau arus kas di perusahaan hanya US$ 14,5 juta, sementara pinjaman ke bank dan lembaga mencapai US$ 1,313 miliar. Utang usaha dan pajak sebesar US$ 905 juta.

Sebagai perbandingan, mengacu data laporan keuangan Maret 2020, kas dan setara kas Garuda mencapai US$ 163,32 juta atau setara Rp 2,29 triliun (kurs Rp 14.000/US$), turun dari Desember 2019 sebesar US$ 299,35 juta. Total liabilitas atau kewajiban mencapai US$ 8,64 miliar atau Rp 121 triliun dari Desember 2019 yakni US$ 3,74 miliar.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading