Ada Faktor China di Balik Reli Bursa Saham Hari Ini

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
13 July 2020 17:40
A man is seen against an electronic board showing stock information at a brokerage house in Hangzhou, Zhejiang province, China March 23, 2018. REUTERS/Stringer ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 5.064,447 atau naik 0,7% atau 33,2 poin. Meski ada tekanan dari sisi peningkatan korban Covid-19 di banyak negara, bursa Indonesia dan Asia sukses menguat. Ada faktor China di baliknya.

Penguatan IHSG hari ini ditopang 237 saham yang diperdagangkan di jalur hijau, sedangkan 183 melemah dan 147 lainnya bergerak flat. Nilai transaksi bursa mencapai Rp 6,3 triliun, dengan investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) Rp 44,1 miliar.

Mayoritas bursa utama Asia menguat, terutama bursa China di mana indeks Shenzen melesat 3,5% disusul indeks Nikkei Jepang melejit 2,2%, demikian juga indeks Kospi (Korea Selatan) yang naik 1,7%. Hanya bursa Singapura dan India yang turun, masing-masing sebesar 0,8% dan 0,6%.


Lonjakan di bursa China ini bukanlah hal yang mengejutkan karena di tengah situasi pandemi yang kian buruk, dengan lonjakan kasus di beberapa negara, China sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua dunia membagikan kabar positif.

Dua kabar itu terkait dengan perkembangan makro dan moneter. Pertama, dari sisi moneter, bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) menyatakan stimulus tambahan tidak perlu dikeluarkan di masa mendatang. Kebijakan moneter ekstra longgar akan kembali normal.

″Kebijakan dan tindakan dibuat merespon wabah virus corona, dan setelah misi selesai mereka akan dicabut," tutur Guo Kai, Deputi Direktur Kebijakan Moneter PBoC, sebagaimana diterjemahkan dan dikutip CNBC International.

Sebagai contoh, Guo memberi contoh dua program kredit khusus senilai total 800 miliar yuan (US$ 114,29 miliar) yang telah menggapai tujuan awal mereka untuk mendukung produksi pasokan medis dan aktivitas layanan kesehatan.

"Dalam setengah tahun selanjutnya, ekonomi akan kembali normal, dan fungsi kebijakan moneter tradisional bisa menjadi lebih jelas," lanjut Gup. "Kita telah memasuki kondisi yang lebih normal."

Pada situasi awal pandemi, sekitar Februari-Maret, pasar bereaksi positif ketika negara maju, utamanya Amerika Serikat (AS) dan China, mengucurkan stimulus karena kebijakan itu diyakini bakal menolong ekonomi dari ancaman resesi dalam. Sebaliknya ketika tak ada stimulus, atau nilai stimulus yang dirilis terlalu kecil, pasar pun bereaksi negatif dengan aksi jual saham.

Namun kini, ketika situasi krisis telah berjalan, kabar ketiadaan stimulus (tambahan) malah menjadi sentimen positif karena mengindikasikan bahwa situasi terburuk telah usai, terlihat dari penilaian bank sentral China mengenai tidak urgennya tambahan stimulus. Pasar pun yakin ekonomi membaik dan investasi di aset berisiko seperti saham bakal cuan.

Kurva Pemulihan V Mulai Terlihat di China?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading