Round Up Sepekan

Rupiah Hebat! Dihajar Pekan Lalu, Berjaya Pekan Ini

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
11 July 2020 16:00
FILE PHOTO: A photo illustration taken in Istanbul shows a U.S. 100 dollar banknote against Turkish lira banknotes of various denominations January 7, 2014. REUTERS/Murad Sezer/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melawan dolar Amerika Serikat (greenback) pada perdagangan sepekan ini (week-on-week/WoW) terapresiasi atau menguat 0,62%. Kini US$ 1 di pasar spot dibanderol Rp 14.360/US$ pada penutupan Jumat (10/7/2020) dari Rp 14.450/US$ pada penutupan akhir pekan lalu (3/7/2020).

Penguatan ini setelah rupiah mencetak quattrick alias penguatan empat hari secara berturut-turut. Penguatan rupiah ditopang oleh sentimen dalam dan luar negeri.


Sentimen dalam negeri penguatan Mata Uang Garuda setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) meredam ekspektasi kenaikan inflasi akibat rencana pembelian obligasi pemerintah dengan zero coupon dalam skema "burden sharing" guna menanggulangi virus corona dan membangkitkan lagi perekonomian. Inflasi yang tinggi membuat real return investasi di dalam negeri menjadi menurun, sehingga tidak menarik bagi investor asing.

Selain itu, BI Selasa pagi melaporkan cadangan devisa di bulan Juni sebesar US$ 131,7 miliar, naik US$ 1.2 miliar pada akhir Mei. Kenaikan cadangan devisa tersebut tentunya membuat amunisi BI untuk menstabilkan rupiah jika mengalami gejolak menjadi lebih besar. Sehingga investor lebih nyaman mengalirkan modalnya ke dalam negeri.

Sementara itu kabar baik dari pasar global datang dari China seteleah pemerintah China melaporkan data inflasi bulan Juni yang tumbuh 2,5% secara tahunan atau year-on-year (YoY), naik dari bulan sebelumnya 2,4% YoY. Ini juga merupakan kenaikan pertama setelah menurun dalam 4 bulan sebelumnya.

Kenaikan inflasi menjadi indikasi roda bisnis kembali berputar, konsumsi mulai meningkat sehingga harga-harga jadi naik. Data tersebut menunjukkan perekonomian China perlahan mulai bangkit setelah terpukul hebat akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-10). Sehingga memunculkan harapan perekonomian global akan segera bangkit atau membentuk kurva V-shape.

Penurunan rupiah di perdagangan hari terakhir minggu ini terjadi setelah virus corona menebar ketakutan baru di pasar finansial, sebabnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini mengakui penyeraban bisa terjadi melalui udara.

WHO awalnya menekankan bahwa Covid-19 ditularkan lewat air liur, sekresi dan tetesan dari penderita melalui batuk, bersin atau bicara atau permukaan yang terkontaminasi. Sehingga jaga jarak dan cuci tangan lebih ditekankan.

Selasa lalu, WHO mengakui ada bukti penularan lewat udara, dalam ruang dengan ventilasi yang buruk. Namun menegaskan perlu ada riset lebih lanjut.

Perubahan pandangan WHO terkait penyebaran virus corona didorongan oleh ratusan ilmuwan yang mempublikasikan suatu artikel terkait potensi penularan Covid-19 melalui udara. Ada 237 ilmuwan multidisipliner yang berasal dari berbagai latar belakang mulai dari ilmuwan aerosol, dokter spesialis infeksi hingga epidemiologis.

Studi yang dilakukan oleh banyak ilmuwan menunjukkan bahwa virus dapat dilepaskan ketika seseorang yang terinfeksi bernapas, berbicara, bersin hingga terbatuk.

Sementara itu dari dalam negeri, kasus penyakit virus corona (Covid-19) kembali mencatat rekor.Juru Bicara Pemerintah khusus Covid-19, Achmad Yurianto, mengungkapkan bahwa ada penambahan 2.657 kasus baru sehingga total positif Covid-19 mencapai 70.736 orang.

Penambahan kasus Covid-19 di Indonesia masih dalam tren menanjak yang membuat pelaku pasar mulai berhati-hati, karena dapat mengganggu pemulihan ekonomi. Apalagi jika sampai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali diterapkan, tentunya perekonomian Indonesia akan kembali terpukul, "hantu" resesi pun makin bergentayangan. Rupiah pun lesu dan mengakhiri penguatan 4 hari beruntun.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading