Bursa Asia Hijau, Hang Seng Jadi Juara Saat Hong Kong Rusuh

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
02 July 2020 17:07
People walk past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, July 10, 2019. Asian shares were mostly higher Wednesday in cautious trading ahead of closely watched congressional testimony by the U.S. Federal Reserve chairman. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham di kawasan Asia pada perdagangan Selasa (30/6/2020) terpantau ditutup di zona hijau. Kenaikan di mayoritas bursa Benua Kuning hari ini terjadi karena kandidat vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh kerja sama perusahaan farmasi AS dan Jerman (Pfizer & BioNTech) menunjukkan hasil yang positif.

Kandidat vaksin tersebut dikabarkan mampu menghasilkan antibodi yang dapat menetralkan virus. Artinya antibodi tersebut berfungsi dengan baik untuk menonaktifkan sang virus. Jumlah antibodi yang dihasilkan oleh pasien uji coba lebih banyak 1,8 - 2,8 kali lipat dari mereka yang sudah sembuh. 

Sementara itu sentimen negatif bursa Asia datang dari parlemen China baru saja mengesahkan undang-undang keamanan di Hong Kong yang tentunya dapat memicu panasnya situasi di Hong Kong.


Undang-undang tersebut dinilai dapat merusak status otonomi Hong Kong yang menganut asas satu negara dua sistem. Hal ini mendapat protes terutama oleh rival China yaitu AS. Dengan lolosnya UU ini, AS tentunya akan semakin geram. 

Setelah peraturan ini keluar, kemarin (1/7/20) ratusan warga Hong Kong melakukan protes di distrik perbelanjaan Causeway Bay, dan langsung diusir oleh kepolisian setempat dan untuk pertama kalinya undang-undang keamanan nasional Hong Kong dipergunakan untuk menangkap seorang warga yang memegang bendera kemerdekaan Hong Kong dan seorang wanita yang memegang tulisan 'Kemerdekaan Hong Kong'. Hukuman untuk kejahatan ini menurut undang-undang baru, sampai dengan dipenjara seumur hidup.

Selanjutnya sentimen negatif juga datang dari pernyataan Changyong Rhee, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF mengatakan wilayah Asia masih dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan dunia bagian lain. Namun, ekonomi global yang lemah rupanya membuat Asia sulit untuk tumbuh.

Rhee mengatakan ekonomi Asia diperkirakan akan pulih dengan kuat untuk mencatat pertumbuhan 6,6% tahun depan. Tetapi tingkat kegiatan ekonomi di wilayah itu masih akan lebih rendah dari proyeksi IMF sebelum pandemi.

"Apa yang kami khawatirkan tentang Asia sebenarnya adalah pemulihan dari tahun 2020," kata Rhee, dikutip dari CNBC Internasional.

Dia menjelaskan bahwa negara-negara di kawasan Asia memiliki "ketergantungan besar" pada perdagangan, pariwisata, dan pengiriman uang. Masalahnya industri tersebut yang paling merugi setelah dihantam pandemi global ini.

Di Korea Selatan indeks Kospi berhasil terapresiasi 1,36% setelah rilis data Indeks Harga Konsumen Korea Selatan Bulan Juni oleh Kantor Statistik Nasional Korea yang menunjukkan harga-harga yang stagnan sehingga tidak terjadi inflasi ataupun deflasi, konsensus sendiri meramalkan terjadinya deflasi tipis 0,1% setelah pada bulan sebelumnya terjadi deflasi 0,3%. Tentu saja ini merupakan rilis data yang baik karena hal ini menunjukkan pemulihan daya beli masyarakat Negeri Ginseng

Selanjutnya di Singapura Indeks STI terbang 1,02%, di Jepang Indeks Nikkei berhasil naik tipis 0,11%, di China indeks SSE juga berhasil terapresiasi 2,13%, sedangkan di Hong Kong indeks Hang Seng terpantau loncat 2,85%. Sementara itu dari dalam negeriIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menanjak 1,07% ke level 4.966,94.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading