Tren Nanjak Berlanjut, Kurs Dolar Singapura Melesat 0,83%

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 July 2020 14:22
FILE PHOTO: A Singapore dollar note is seen in this illustration photo May 31, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Singapura kembali menguat melawan rupiah pada perdagangan Kamis (2/7/2020), kali ini menguat cukup signifikan. Mata Uang Negeri Merlion ini mulai dalam tren menanjak sejak menyentuh level terendah 3 bulan Rp 9.906,07/SG$.

Pada pukul 13:36 WIB, SG$ 1 ke Rp 10.254,88, dolar Singapura menguat 0,83% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Jika ditotal, sejak menyentuh level terendah 3 bulan hingga hari ini, dolar Singapura sudah menguat 3,6%

Dolar Singapura dan rupiah kini dalam kondisi berkebalikan. Singapura yang dikatakan menjadi tempat aman (safe place) untuk investasi menjadi modal bagi mata uangnya untuk menguat. Sementara rupiah sedang kehabisan "bensin" setelah menguat tajam pada periode April sampai awal Juni. Saat itu rupiah menguat lebih dari 13%.


Bank investasi ternama, Morgan Stanley mengatakan bullish terhadap pasar saham Singapura dan dikatakan sebagai safe place di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

"Kita bisa melihat inflow yang didukung oleh peningkatan persepsi Singapura sebagai safe place di saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan politik regional," tulis analis Morgan Stanley, Wilson Ng dan Derek Chang, sebagaimana dilansir CNBC International, Senin (29/6/2020).

Valuasi bursa saham Singapura dikatakan sudah mencapai level dasar, dan diprediksi akan menguat 14%.

Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) menjadi penyebab ketidakpastian ekonomi. Guna menanggulanginya, pemerintah Singapura menggelontorkan 4 paket stimulus senilai SG$ 100 miliar, atau hampir 20% dari produk domestik bruto (PDB).

Aliran modal besar masuk ke Singapura di tahun ini, bahkan tren tersebut sudah terjadi sejak tahun lalu. Di bulan April deposito non-residence dilaporkan meningkat 44% year-on-year (YoY) menjadi SG$62,14 miliar, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Di sisi lain, Indonesia berisiko menghadapi capital outflow akibat Bank Indonesia (BI) yang diprediksi akan kembali memangkas suku bunga. Saat mengumumkan pemangkasan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 4,25% pertengahan Juni lalu, BI memang membuka peluang akan kembali memangkas 7 Day Reserve Repo Rate tersebut.

Saat suku bunga dipangkas, yield obligasi juga akan menurun, yang tentunya menjadikannya kurang menarik.

Yield obligasi Indonesia tenor 10 tahun saat ini berada di level 7,247%, sementara instrumen yang sama milik Singapura berada di level 0,888%.
Meski yield obligasi Indonesia masih jauh lebih tinggi ketimbang Singapura, tetapi sebagai negara emerging market, investasi di Indonesia tentunya dianggap lebih berisiko, sehingga investor menginginkan return yang lebih tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading