Arus Kas Kimia Farma Bisa Minus Rp 300 M, Ini Penyebabnya

Market - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
30 June 2020 17:43
Laba Bersih 2018 Kimia Farma Melonjak 27,27% (CNBC Indonesia TV) Foto: Laba Bersih 2018 Kimia Farma Melonjak 27,27% (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) harus gali lubang tutup lubang untuk menjalankan operasional perusahaan. Pasalnya, pandemi corona (Covid-19) membuat beban keuangan perseroan meningkat.

Kondisi ini ditambah lagi adanya piutang yang belum terbayar sebesar Rp 2,2 triliun. Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo buka-bukaan mengenai kondisi ini di sela rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI.

"Akibat pelunasan piutang dari pelanggan terlambat sehingga Kimia Farma membutuhkan modal kerja tambahan. Per 30 April total piutang sebesar Rp 2,2 triliun. Dari Rp 2,2 triliun itu, Rp 1,1 triliun merupakan piutang terhadap pemerintah," kata Verdi, Selasa (30/6/20).


Sisanya, piutang tersebut tersebar di sejumlah mitra yang selama ini dilayani Kimia Farma. Di antaranya BPJS Kesehatan, dinas kesehatan, rumah sakit pemerintah, rumah sakit TNI-Polri.

Verdi menjelaskan bahwa beban keuangan perseroan meningkat karena sumber pembiayaan layanan tersebut bersumber dari perbankan. Dikatakan bahwa arus kas operasi menjadi negatif, dan laba perseroan menurun karena adanya beban keuangan atau beban bunga yang tinggi.

"Dampak piutang tersebut bagi non finansial adalah pelayanan kesehatan dan penyediaan obat-obatan, dan alat kesehatan menjadi sedikit terkendala," urainya.

Dia mencatat, Kimia Farma memiliki jumlah pinjaman modal kerja per 30 April sebesar Rp 4,4 triliun untuk membiayai piutang dan persediaan. Dia menegaskan bahwa pencairan piutang dari pemerintah amat dibutuhkan sebagai tambahan modal kerja.

"Kenaikan harga bahan baku obat yang signifikan, di mana lebih 90% bahan baku obat diimpor dari China dan India. Sebagian besar dari supplier menerapkan kebijakan pembayaran di muka atau COD yang menekan cash flow operasi Kimia Farma," tandasnya.

"Apabila tidak ada pembayaran dari debitur, arus kas kita akan minus di akhir Desember 2020 Rp 331 miliar," lanjutnya.

Saksikan video terkait di bawah ini:

Kemenkeu Rilis Ketentuan Penempatan Dana di Bank Umum


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading