Jokowi Sebut Krisis Berkali-kali, Apa Pengaruhnya ke IHSG?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
30 June 2020 13:53
Seorang karyawan mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (21/3/2018). IHSG pada perdagangan Rabu (21/3/2018) dibuka menguat 0,27% ke  6.260,18 poin dari penutupan kemarin di 6.243,57 poin. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - Seminggu terakhir ini Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali menyampaikan situasi krisis yang terjadi di Indonesia. Terbaru Jokowi meminta para kepala daerah untuk hati-hati agar sektor kesehatan maupun ekonomi bisa berjalan beriringan.

"Yang kita hadapi ini adalah bukan hanya urusan krisis kesehatan tetapi juga masalah ekonomi, krisis ekonomi. Karena kalau kita lihat demand terganggu, supply terganggu, produksi terganggu, pada kuartal yang pertama kita bisa tumbuh, masih tumbuh keadaan normal kita di atas 5, tapi kuartal pertama kita tumbuh 2,97, masih bisa tumbuh 2,97. Tetapi di kuartal kedua kita sangat khawatir bahwa kita sudah berada di posisi minus pertumbuhan ekonomi kita," ujar Jokowi saat melakukan kunjungan kerja ke Jawa Tengah yang disiarkan melalui akun YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (30/6/2020).

Meski Jokowi berkali-kali mengungkapkan kekhawatiran soal krisis ini, pasar modal nampaknya tidak perduli dan masih menghijau. Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada penutupan sesi 1 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menguat 0,42% di level 4.923,08


Sedangkan apabila melihat selama sepekan terakhir IHSG berhasil terapresiasi sebesar 0,82%, bahkan jika menilik sejak dua pekan lalu IHSG berhasil reli sebesar 2,13%.

Sebenarnya ketakutan RI 1 akan datangnya krisis di Indonesia dapat di maklumi karena data-data ekonomi sudah menunjukkan hal tersebut. Data terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini dari -3% menjadi -4,9%.

Selain itu pasar saham memang seringkali menjadi indikator yang kurang kuat untuk menakar datangnya krisis. Pasalnya di tengah ketidakpastian ekonomi global seperti ini penggerak utama pasar adalah rasa tamak (greed)dan rasa takut (fear), kondisi ekonomi secara umum hanya menjadi 'bumbu' saja.

Ini terbukti dari dana asing yang terus keluar dari bursa lokal kita meskipun IHSG terus naik. Tercatat selama seminggu terakhir dana asing yang keluar dari bursa lokal kita sebesar Rp 1,97 triliun, angka ini naik menjadi Rp 5,12 triliun jika ditarik dari sebulan terakhir.

Investor asing sepertinya tidak percaya terhadap kemampuan pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi ini sehingga secara terus menerus melakukan aksi jual bersih di pasar modal.

Sementara itu investor lokal yang lebih percaya terhadap pemerintah negaranya sendiri bertaruh terhadap pemulihan ekonomi yang lebih lancar terus menampung saham limpahan investor asing.

Selain itu perasaan Fear of Missing Out (FOMO) yaitu fenomena pembelian saham karena takut 'ketinggalan kereta' turut menjadi penentu, FOMO terjadi sebab semenjak menyentuh titik nadirnya pada Maret lalu di angka 3.911.71, IHSG sudah reli panjang sampai 31%.

Hal ini ternyata juga diamini oleh IMF dalam kajian terbarunya yang berjudul Global Financial Stability Report. IMF memperingatkan bahwa ada diskoneksi antara pasar keuangan dengan ekonomi riil.

"Diskoneksi antara pasar dan ekonomi riil meningkatkan risiko terjadinya koreksi harga aset-aset keuangan ketika selera investor terhadap risiko memudar, hal ini akan menjadi ancaman untuk pemulihan" kata IMF dalam Global Financial Stability Report.

"Mengacu pada pemodelan yang dibuat oleh staf IMF, perbedaan antara harga pasar dan valuasi fundamentalnya berada di level tertinggi dalam sejarah hampir di seluruh negara maju untuk pasar saham dan surat utangnya, meski yang terjadi justru sebaliknya untuk saham di beberapa negara berkembang" tulis laporan tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Saksikan video terkait di bawah ini:

Deretan Saham yang Diborong & Dilepas Asing di Semester I


(trp/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading