Harga Emas Kokoh di US$ 1.770, Kenapa Susah Tembus US$ 1.800?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
30 June 2020 08:22
FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia kokoh di rentang level tertingginya tahun ini. Investor masih wait and see terhadap perkembangan terbaru pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19) secara global dan seperti apa respons pasar.

Selasa (30/6/2020), harga emas di pasar spot cenderung flat. Pada 07.30 WIB harga logam mulia dibanderol US$ 1.770,37/troy ons atau melemah tipis 0,06% dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin.



"Peningkatan jumlah kasus virus corona di sebagian besar Amerika Serikat telah membuat pasar gelisah dan mendukung emas," Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, mengutip Reuters.

"Ada fenomena beralih ke emas sejak minggu lalu ... Namun untuk saat ini, para trader sedang menunggu untuk melihat bagaimana kinerja ekuitas dan jika terjadi tekanan jual di pasar saham nantinya, emas akan bergerak lebih tinggi." tambahnya.

Lonjakan kasus tidak hanya terjadi di Amerika Serikat saja, tetapi juga belahan dunia lain. China yang juga melaporkan adanya peningkatan kasus akhirnya memilih untuk mengkarantina Beijing sebagai episentrum baru wabah.

Sementara itu di Inggris, Menteri Kesehatan Matt Hancock meminta Leicester untuk kembali dikarantina lantaran laju infeksi Covid-19 di wilayah tersebut merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan wilayah lain.

Hancock berkata sekolah dan beberapa toko yang dinilai kurang esensial harus ditutup dan warga dilarang untuk bepergian keluar maupun di dalam kota. "Kami tidak mengambil keputusan ini dengan mudah, tetapi kepentingan rakyat Leicester lah yang kami utamakan," kata Hancock.

Namun, Stephen Innes, kepala strategi pasar di perusahaan jasa keuangan AxiCorp mengatakan rendahnya inflasi menimbulkan tantangan bagi emas untuk kembali reli."Mengingat inflasi mengarah lebih rendah baik dalam jangka pendek dan menengah, emas butuh (imbal hasil obligasi) yang terus turun tahun ini."

Rendahnya inflasi juga berpotensi membuat bank sentral Eropa (ECB) kembali menambah jumlah uang yang disuntikkan ke perekonomian melalui Pandemic Emergency Purchase Programme (PEPP). 

Awal pekan ini ECB menambah dana sebesar 600 miliar euro untuk membeli aset-aset keuangan sehingga secara total ECB menggelontorkan uang senilai 1,35 triliun euro jika ditambah dengan nominal sebelumnya di 750 miliar euro. 

Namun ekonom Eropa Florian Hense memperkirakan bahwa ECB mungkin akan menambah 1 triliun euro (US$ 1,12 triliun) untuk mendukung langkah pembelian aset finansial dalam dua atau tiga tahun ke depan. 

Pelaku pasar sejatinya juga melihat peluang bahwa ECB mungkin akan menyuntik uang lebih dari 500-600 miliar euro. Ada kemungkinan tambahan hingga 800 miliar euro yang membuat total alokasi untuk program PEPP ini menjadi 1,6 triliun euro.

Meski kebijakan yang diambil oleh ECB dan stimulus fiskal yang digelontorkan oleh masing-masing pemerintah anggota Uni Eropa akan memberikan dampak positif bagi inflasi, tetapi Hense yakin bahwa ini hanya masalah waktu sebelum ECB akan mengambil tindakan tambahan.

"Riset mandiri ECB pada program pembelian aset sebelumnya menunjukkan bahwa keputusan yang diambil pada Juni akan memberikan dampak kecil bagi inflasi" kata Hense.

"Proyeksi inflasi saat ini masih terlalu optimistik. Jika demikian maka ECB akan membutuhkan langkah tambahan dari yang sudah direncanakan merespons inflasi yang lemah di bulan Juni" pungkasnya. 

Di tengah kondisi yang serba tidak pasti memang minat terhadap emas sebagai aset safe haven meningkat. Namun meski banjir stimulus sudah terjadi outlook inflasi yang rendah membuat emas agak susah bergerak lebih tinggi. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading