Emas Rekor Tertinggi Tahun Ini, Dekati Level US$ 1.800/Oz

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
27 June 2020 12:18
Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam sepekan terakhir harga emas di pasar spot mengalami kenaikan yang cukup signifikan dan logam mulia tersebut kini telah mencetak level tertinggi barunya di sepanjang 2020.

Pada perdagangan terakhir spot Jumat (26/6/2020) harga emas ditutup di US$ 1.770,62/troy ons. Ini merupakan harga tertinggi untuk tahun ini serta tertinggi dalam kurun waktu tujuh setengah tahun terakhir.


Harga emas ditutup melejit menjelang akhir pekan setelah berbagai negara di dunia mulai melaporkan terjadinya lonjakan kasus baru infeksi Covid-19. Kenaikan jumlah kasus paling banyak dicatatkan oleh Amerika Serikat dan Brazil.

Dalam sepekan terakhir jumlah kasus di sembilan negara yang total orang yang terjangkit lebih dari angka 20.000 mengalami peningkatan yang signifikan dibanding pekan sebelumnya.

Peningkatan kasus ini memicu kekhawatiran di pasar dan sentimen terhadap risiko pun memburuk. Aset-aset seperti saham dilego yang berujung pada anjloknya tiga indeks saham utama bursa New York. 

Di hari terakhir perdagangan pekan ini, indeks Dow Jones ambles 2,84%, S&P 500 turun 2,42% dan Nasdaq Composite terpangkas 2,59%. Investor beralih ke aset lain yang lebih aman seperti emas dan surat utang pemerintah AS. 

Hal ini tercermin dari kenaikan harga emas dan juga penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Negeri Paman Sam untuk tenor 10 tahun yang mencatatkan yield terendahnya di bulan Juni pada 0,638%. 

Dalam instrumen fixed income ketika imbal hasilnya mengalami penurunan maka harganya naik yang mengindikasikan bahwa investor sedang memburu obligasi tersebut. 

"Investor sekarang gugup merespons kabar peningkatan kasus infeksi virus corona dan beralih dari aset-aset berisiko seperti saham dan memarkirkan investasinya di emas dan surat utang" kata Bob Haberkorn, senior market strategist at RJO Futures, sebagaimana diwartakan Reuters.

Kondisi memang sedang tidak kondusif. Risiko ketidakpastian menjadi tinggi. Di sisi lain banjir stimulus membuat ancaman inflasi yang tinggi di masa mendatang. Emas sebagai aset lindung nilai (hedging) pun menjadi sangat menarik dan makin dilirik oleh investor. 

Melihat realita yang ada dan data-data ekonomi yang lebih buruk dari perkiraan serta masih tingginya risiko ketidakpastian, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi minus 4,9%.

Data PDB kuartal pertama yang lebih buruk dari perkiraan, turunnya konsumsi masyarakat dan output jasa, mobilitas yang masih terbatas, angka pengangguran yang melonjak signifikan hingga lebih dari 200 juta orang, kontraksi pada volume perdagangan hingga inflasi yang lemah membuat IMF merevisi turun proyeksinya.

Prospek emas masih sangat cerah, kini emas sudah semakin dekat ke level psikologis US$ 1.800/troy ons. Bank of Amerika (BoA) optimis bahwa peluang emas untuk menguat masih terbuka lebar.

Chief Global FICC Technical Strategist Paul Ciana mengatakan bahwa harga emas akan cenderung menguji level tertingginya di rentang US$ 1.790 - US$ 1.805. Jika rentang tersebut berhasil dilalui oleh emas, maka level tertinggi selanjutnya yang pernah dicapai pada 2011 yakni di US$ 1.920,7 akan mudah dilampaui juga.

Lebih lanjut Ciana mengatakan skenario harga emas ke US$ 2.000 sangat mungkin dan arahnya memang ke sana. Harga bullion berpotensi ke US$ 2.114 - US$2.296. Bahkan ada ramalan ekstrem yang memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 10.000/troy ons.

Prediksi ini disampaikan Dan Olivier, pendiri Myrmikan Capital, yang merupakan perusahaan pengelola dana yang berbasis di New York yang fokus pada riset emas (Myrmikan Research) dan pengelola dana Myrmikan Gold Fund.

Menurut Olivier neraca (balance sheet) bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sebagai faktor utama yang membawa harga emas terbang mengangkasa.

"The Fed, seperti yang ada ketahui, melakukan aksi pembelian aset uang masif akibat situasi yang disebabkan virus corona, oleh karena itu harga ekuilibrium emas juga naik dengan sepadan, harga emas yang seimbang dengan balance sheet The Fed kini sangat tinggi," kata Olivier, sebagaimana dilansir Kitco.

"Perkiraan saya sudah berubah, saya sekarang melihat harga emas bisa ke US$ 10.000/troy ons," tambahnya.

Sayangnya, Olivier tidak menyebutkan dalam rentang waktu berada lama emas akan mencapai level US$ 10.000/troy ons.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading