Tembus Rp 10.100, Dolar Singapura dalam Tren Menguat Lagi?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 June 2020 11:18
Singapore currency notes are seen through a magnifying glass among other currencies in this photo illustration taken in Singapore April 12, 2013. REUTERS/Edgar Su

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Singapura menguat melawan rupiah pada perdagangan Senin (22/6/2020) dan mendekati level Rp 10.100/US$. Sentimen pelaku pasar yang sedang memburuk membuat rupiah mengalami tekanan pada hari ini.

Pada pukul 11:00 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.101,01, dolar Singapura menguat 0,51% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Dengan penguatan hari ini, dolar Singapura makin menjauhi level terendah 3 bulan Rp 9.974,07/SG$ yang disentuh pada 8 Juni lalu.

Sentimen pelaku pasar hari ini memburuk setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pandemi penyakit virus corona (Covid-19) kini berada dalam "fase baru dan berbahaya".


"Pandemi semakin cepat. Lebih dari 150 ribu kasus baru Covid-19 dilaporkan ke WHO kemarin - jumlah paling banyak dalam satu hari sejauh ini," sebut Tedros dalam konferensi pers virtual pada Jumat (19/6) waktu setempat.

Menurutnya hampir separuh dari kasus baru yang dilaporkan ke WHO itu berasal dari kawasan Amerika, dengan sejumlah besar juga dilaporkan dari Asia Selatan dan Timur Tengah.

Gelombang kedua Covid-19 kini memang sedang mengintai. China, negara asal virus corona dan sebelumnya sudah sukses meredam penyebarannya kini kembali menghadapi peningkatan kasus.

Tetapi episenter penyebaran Covid-19 kini berada di ibu kota Beijing. Setelah 50 hari tanpa transmisi lokal Covid-19 alias nol kasus, Beijing akhirnya melaporkan kasus pertama pada Jumat (12/6/2020). Komisi Kesehatan Nasioanal China hari ini melaporkan ada 18 kasus Covid-19 baru, 9 di antaranya ada di Beijing. 

Sehingga jika di total jumlah kasus di Beijing saat ini sebanyak 236 orang.

Kluster Covid-19 di Beijing berada di pasar Xinfadi, yang merupakan pasar tradisional terbesar di Beijing. Sehingga risiko semakin banyak orang yang terjangkit cukup tinggi. Pasar Xinfadi tersebut juga jauh lebih besar dari pasar di kota Wuhan yang menjadi awal munculnya virus corona hingga menjadi pandemi.

Amerika Serikat (AS) juga melaporkan rekor penambahan kasus per hari di beberapa Negara Bagian. Kemudian dari Australia, Negara Bagian Victoria kembali mengetatkan kebijakan social distancing setelah terjadi peningkatan kasus.

Dari Eropa, Jerman tingkat reproduksi (Rt) Covid-19 pada hari Minggu naik menjadi 2,88 dari sebelumnya 1,79. Artinya 1 orang yang terinfeksi Covid-19 dapat menularkan ke 2,88 orang, atau dari 100 orang dapat menularkan ke 288 orang.

Penambahan kasus Covid-19 tersebut terjadi setelah kebijakan lockdown di longgarkan, sehingga pelaku pasar menjadi berhati-hati mengingat hampir semua negara kini melonggarkan kebijakan lockdown. Beberapa wilayah di Indonesia juga sudah melonggarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Yang ditakutkan pada pelaku pasar, jumlah kasus terus mengalami peningkatan sehingga lockdown harus kembali diterapkan. Dampaknya, perekonomian global berisiko mengalami resesi panjang. Sentimen pelaku pasar pun memburuk, dan rupiah sebagai aset negara emerging market menjadi tertekan.

Semakin banyak negara-negara yang mengalami lockdown, maka sentimen pelaku pasar akan semakin memburuk, dan dolar Singapura bisa kembali dalam tren menguat melawan rupiah.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading