Dow Futures Anjlok 488 Poin, Siap-Siap Wall Street Merah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
11 June 2020 18:37
People walk down Broadway past the Wall Street subway station in New York September 15, 2008. REUTERS/Chip East

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (11/6/2020) masuk ke zona merah, menyusul kenaikan jumlah penderita Covid-19 setelah pembukaan kembali karantina wilayah (lockdown) AS.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 488 poin (-1,8%) dan mengindikasikan bahwa indeks acuan bursa utama nasional tersebut bakal melemah hingga 500 poin. Kontrak serupa indeks S&P 500 juga tertekan masing-masing sebesar 1,4% dan 1,1%.

Namun, kontrak berjangka indeks Nasdaq-100 menguat 0,1% karena investor kembali memburu saham-saham sektor teknologi yang di masa karantina wilayah (lockdown) mendapat berkah kenaikan penggunaan jasa.


Saham maskapai penerbangan United Airlines, Delta Airlines, American Airlines dan Southwest Airlines anjlok lebih dari 7% di pasar pra-pembukaan. Keprihatinan akan gelombang kedua penyebaran virus corona muncul setelah beberapa negara AS membuka kembali ekonomi.

Sebagai dilaporkan AP, Texas mencatatkan tiga rekor tertinggi pasien Covid-19. Sembilan wilayah di California juga melaporkan kenaikan kasus corona dan juga jumlah pasien yang terkonfirmasi terkena virus berbahaya tersebut. Secara total, jumlah pengidap virus corona mencapai 2 juta orang di AS.

Indeks S&P 500 melemah 0,5% pada Rabu sedangkan Dow Jones tertekan sekitar 280 poin. Sedangkan indeks Nasdaq menguat 0,7% ke level tertinggi barunya pada 10.020,35, mencetak kenaikan selama delapan hari beruntun.

Sepanjang tahun berjalan, indeks S&P 500 anjlok 1,2% tahun ini. Baik indeks S&P 500 maupun Dow Jones terhitung menguat lebih dari 45% dari posisi terendahnya.

Harga minyak mentah anjlok 3% di sesi awal perdagangan. Pada Rabu, investor merespons keputusan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan dan menyatakan takkan menaikkannya hingga 2022.

Bank sentral terkuat di dunia ini juga memperkirakan ekonomi negara dengan perekonomian terbesar dunia bakal terkontraksi 6,5% pada 2020 sebelum tumbuh 5% pada 2021. Sl

"Kami tak berpikir soal kenaikan suku bunga acuan. Kami bahkan tak memikirkan tentang kenaikan suku bunga acuan," tutur Ketua Fed Jerome Powell. "Yang kami pikirkan adalah menopang perekonomian. Kami menilai masih akan butuh waktu." 

Investor menanti rilis data klaim pengangguran mingguan per 6 Juni, pada pukul 08:30. Ekonom dalam polling Dow Jones memperkirakan klaim asuransi pengangguran bakal mencapai angka 1,595 juta, atau turun dari periode sebelumnya 1,775 juta.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading